Jakarta — Di tengah gempita pembangunan Jakarta, jerit sunyi datang dari lorong-lorong sempit Kapuk Muara, Penjaringan, Jakarta Utara. Sudah hampir sepekan, air dari PAM Jaya tak mengalir setetes pun. Tanpa pengumuman, tanpa solusi. Yang tersisa hanya ember kosong, jerigen antri, dan warga yang mulai kehabisan cara untuk sekadar mandi atau memasak.
“Air sekarang kayak barang mewah. Mandi gantian, kadang cuma satu gayung,” keluh Bu Yuli, ibu tiga anak, matanya nyaris berlinang.
Krisis air ini bukan sekadar gangguan teknis. Ini soal hak dasar warga negara yang terabaikan. Di tengah kemarau dan suhu yang menanjak, warga harus mencari cara sendiri agar tetap bertahan.
Alih-alih menunggu bantuan yang tak kunjung datang, warga akhirnya berinisiatif. Mereka urunan dari recehan hingga puluhan ribu rupiah menyewa mobil tangki air. Patungan ini bukan karena mampu, tapi karena tak ada pilihan.
“Kami bukan minta gratis. Kami siap bayar. Tapi airnya nggak ada. Anak saya sampai gatal-gatal,” kata Pak Agus, penjual nasi uduk yang kini ikut membantu distribusi air dari tangki keliling.
Saat malam turun, jerit bayi yang kehausan bersahut dengan suara ember ditarik. Beberapa warga bahkan terpaksa numpang mandi di rumah kerabat di luar kawasan. Tak ada tuntutan muluk. Mereka hanya ingin bisa hidup normal.
Hingga berita ini diturunkan, tak ada penjelasan dari pihak PAM Jaya. Tak ada klarifikasi, apalagi permintaan maaf. Yang ada hanya diam dan derita warga yang makin terpinggirkan dari narasi kota besar.
Warga Kapuk Muara hanya berharap, hak atas air bersih tak menjadi sekadar slogan. Karena di balik rumah-rumah sempit itu, ada kehidupan yang terus berjuang bukan demi kenyamanan, tapi demi kelangsungan hidup.
