Makassar – Kisruh yang terjadi dalam pengadaan baju seragam SD dan SMP lagi viral di kota Makassar mendapat kritikan keras dari beberapa elemen masyarakat, DPP RESOPA SULSEL salah satunya turut angkat bicara. Resopa Ketua Umum DPP Resopa, Syarifuddin Borahima, menyampaikan bahwa pihaknya menerima banyak keluhan dari pelaku UMKM, khususnya penjahit yang tergabung dalam kelompok penerima kerja jahit seragam sekolah. Menurutnya, sebagian besar mereka justru tidak dilibatkan sama sekali dalam proses pengadaan.

“Kami telah ditelepon langsung oleh para penjahit yang sudah bertahun-tahun berjualan di Pasar Butung. Mereka mengaku hanya diminta menggunting atau mengukur. Seragamnya sudah jadi duluan. Artinya apa? Ini bukan pemberdayaan, tapi hanya formalitas,” tegasnya.

Ia menyayangkan terjadinya perbedaan antara aturan dan praktik di lapangan. Mengacu pada Permendikbud Nomor 50 Tahun 2022, seragam SD dan SMP yang ditanggung negara adalah seragam putih-merah untuk SD dan putih-biru untuk SMP.Namun di sekolah, siswa diwajibkan memakai hingga lima jenis seragam berbeda, seperti pramuka, olahraga, batik, dan adat.

“Yang ditanggung pemerintah hanya satu stel. Sementara siswa tetap diminta memakai seragam lain selama seminggu. Ini yang membingungkan dan memberatkan orang tua,” ujarnya

Sementara itu, proses awal program disebut melibatkan sekitar 50 penjahit per kecamatan. Jika dikalikan dengan 15 kecamatan, ada sekitar 750 pelaku UMKM yang seharusnya dilibatkan.

Namun hasil akhir hanya menunjukkan 32 pemenang pengadaan, di mana menurut Syarifuddin, 29 di antaranya tidak mendapatkan pekerjaan jahit sama sekali.

“Payung hukum yang dikeluarkan oleh Pemkot menyebut 32 UMKM. Tapi di lapangan, sebagian besar tidak diberi pekerjaan. Seragamnya justru diborong dari Pasar Butung. Ada dugaan label toko dicabut sebelum diserahkan ke siswa,” tambahnya.

Anggaran untuk seragam sekolah juga menjadi sorotan. Berdasarkan dokumen yang disebutkan, seragam SMP dianggarkan sebesar Rp180.000 per stel, sementara untuk SD sebesar Rp143.000.

Namun fakta di lapangan menunjukkan harga pasar seragam di Pasar Butung hanya berkisar antara Rp70.000–Rp80.000.

“ ke mana sisa anggarannya? Ini yang harus dijawab Dinas Pendidikan,” kata Syarifuddin.Ia juga mempertanyakan keterlibatan pihak luar dalam proses tender yang menyebutkan ada peserta pengadaan yang berasal dari luar sulawesi. Sebelumnya awal program ini adalah untuk membangkitkan ekonomi UMKM lokal di Kota Makassar.

Kepala dinas pendidikan kota Makassar saat di konfirmasi via telepon mengatakan bahwa ke 29 pelaku UMKM akan segera dilakukan pendataan. Menyinggung adanya temuan akan buruknya kualitas seragam yang beredar ia beserta beberapa tim akan menelusuri langsung ke lapangan akan temuan tersebut.