LAMPUNG TIMUR, Diksiber — Dewi Ayu Gembirowati Soekarno Putri, inisiator Empat Pilar Gerakan Desa, memperkenalkan gagasan pembangunan desa yang memadukan pelestarian sejarah Bung Karno, pendidikan kebangsaan, penguatan ekonomi, dan sinergi pembangunan nasional. Gagasan tersebut mengemuka dalam peresmian Soekarno Centre di Jalan Nusantara Raya, Desa Bumi Jawa, Kecamatan Batanghari Nuban, Kabupaten Lampung Timur, Sabtu (10/10/2026).
Presiden RI Prabowo Subianto yang sebelumnya dijadwalkan hadir dilaporkan berhalangan. Sejumlah perwakilan pemerintah, unsur TNI-Polri, tokoh masyarakat, komunitas Galeri Bung Karno, serta perwakilan kepala desa dari berbagai daerah menghadiri kegiatan tersebut.
Hadir pula Dr. Andi Wijaya, S.T., M.AP., Direktur Perencanaan Teknis Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi, serta Hayudian Utomo, S.Sos., M.M., Kepala Bidang Ketransmigrasian Provinsi Lampung. Ketua Umum Forum Aliansi Persaudaraan Indonesia-Iran, Buya Hasan, bersama Sekretaris Jenderal Jalaludin juga menghadiri acara tersebut.
Dewi Ayu Dorong Desa Jadi Fondasi Pembangunan Bangsa
Dewi Ayu menekankan pentingnya menempatkan desa sebagai fondasi pembangunan nasional. Menurut gagasan yang diperkenalkannya, penguatan ekonomi masyarakat harus berjalan beriringan dengan pelestarian sejarah perjuangan bangsa dan penanaman nilai-nilai Pancasila.
Melalui Soekarno Centre, Museum dan Galeri Bung Karno, serta program pemberdayaan ekonomi desa, ia mendorong kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, masyarakat, komunitas, dan pelaku usaha.
Dewi Ayu berharap gagasan tersebut berkembang menjadi program nyata yang mampu memperkuat kemandirian, meningkatkan produktivitas, serta mendorong kesejahteraan masyarakat desa.
Empat Pilar Gerakan Desa
Dalam kegiatan tersebut, penyelenggara memperkenalkan empat pilar sebagai kerangka gagasan pembangunan desa dan kelurahan.
Pertama, Rumahku Istanaku–Soekarno Centre. Pilar ini diarahkan sebagai pusat kajian kebangsaan, sejarah perjuangan, dan pendidikan nilai-nilai Pancasila.
Kedua, Museum dan Galeri Bung Karno. Fasilitas ini diperkenalkan sebagai ruang edukasi sejarah sekaligus sarana pelestarian warisan perjuangan Proklamator Republik Indonesia.
Ketiga, Bank Central Soekarno. Gagasan ini mengarah pada penguatan kelembagaan ekonomi dan koperasi bagi desa serta kelurahan. Namun, penyelenggara masih perlu menjelaskan status hukum, perizinan, sumber pendanaan, mekanisme operasional, dan bentuk layanan yang akan dijalankan.
Keempat, Wadah Tunggal 83.755 Desa dan Kelurahan NKRI. Pilar ini diproyeksikan sebagai ruang komunikasi, konsolidasi, dan sinergi pembangunan desa serta kelurahan di tingkat nasional.
Keempat pilar tersebut menggabungkan pendidikan kebangsaan, pelestarian sejarah, pemberdayaan ekonomi, dan koordinasi pembangunan masyarakat. Pelaksanaannya memerlukan program kerja yang terukur agar setiap pilar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Andi Wijaya Tekankan Nilai Tambah Ekonomi Desa
Sementara itu, Dr. Andi Wijaya menekankan pentingnya transformasi ekonomi dalam pengembangan kawasan transmigrasi. Menurutnya, pembangunan kawasan perlu mendorong terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru dengan memanfaatkan potensi lokal.
Upaya tersebut dapat mencakup diversifikasi usaha, pengolahan hasil produksi, dan industrialisasi berbasis masyarakat. Dengan pendekatan itu, masyarakat tidak hanya bergantung pada penjualan bahan mentah, tetapi juga berpeluang memperoleh nilai tambah melalui produk olahan dan kegiatan usaha yang lebih beragam.
Pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal diharapkan membuka peluang usaha, memperluas aktivitas ekonomi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Transparansi dan Akuntabilitas Menjadi Kunci
Pengembangan Empat Pilar Gerakan Desa membutuhkan perencanaan terukur, pembagian tanggung jawab yang jelas, kolaborasi lintas sektor, serta evaluasi berkala terhadap manfaat program.
Khusus rencana yang berkaitan dengan perbankan, koperasi, dan layanan keuangan, penyelenggara perlu memberikan informasi terbuka mengenai status hukum, perizinan sesuai ketentuan, sumber pendanaan, serta tata kelola kelembagaan.
Keterbukaan tersebut penting agar masyarakat dapat memahami mekanisme program sekaligus menilai kesesuaiannya dengan peraturan yang berlaku. Evaluasi berkala juga diperlukan untuk mengukur capaian dan memastikan program benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat desa.
Membangun Desa, Menguatkan Indonesia
Gagasan Dewi Ayu tentang desa sebagai fondasi pembangunan bangsa bertemu dengan pandangan Andi Wijaya mengenai pentingnya transformasi ekonomi kawasan. Keduanya menyoroti pemberdayaan masyarakat dan optimalisasi potensi lokal sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.
Peresmian Soekarno Centre di Lampung Timur menjadi momentum untuk memperkenalkan Empat Pilar Gerakan Desa kepada masyarakat. Meski demikian, keberhasilan gagasan tersebut akan bergantung pada kejelasan program kerja, konsistensi pelaksanaan, transparansi pengelolaan, dan dampak yang dapat diukur.
Pada akhir kegiatan, panitia mengajak para tamu undangan melihat langsung berbagai bagian gedung Museum Soekarno Centre. Kunjungan tersebut sekaligus memperkenalkan fasilitas yang menjadi bagian dari gagasan pelestarian sejarah dan pendidikan kebangsaan.
(Redaksi)
