DIKSIBER.id | YOGYAKARTA – Di lereng Bukit Turgo yang menyimpan jejak kerusakan ekosistem akibat penurunan biodiversitas, erosi dan tekanan aktivitas manusia bertahun-tahun, tim riset lintas disiplin dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) siap melakukan perubahan. Mereka mendirikan laboratorium hidup langsung di lapangan, sebuah pendekatan ilmiah yang menempatkan alam sebagai ruang kelas sekaligus subjek penelitian.
Tim dosen dari tiga fakultas UAJY, yakni Fakultas Teknobiologi (FTb), Fakultas Teknik (FT) dan Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE), berhasil meraih pendanaan Program Hibah Penelitian Bestari Saintek yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Pengumuman kelulusan pendanaan disampaikan pada Maret 2026, setelah melalui proses seleksi ketat yang dimulai sejak tahun 2025.
Penelitian bertajuk “Living Lab Biodiversitas Bukit Turgo” ini diketuai oleh Prof. Ir. Ign. Pramana Y., M.Si., Ph.D., dosen Biologi UAJY, dengan melibatkan enam anggota dari berbagai latar belakang keilmuan. Mereka adalah Prof. Aloysius Gunadi Brata, S.E., M.Si., Ph.D. (Dosen Ekonomi Pembangunan); Dr. Vincentia Reni Vitasurya, S.T., M.T. (Dosen Arsitektur); Dra. L. Indah Murwani Yulianti, M.Si. (Dosen Biologi); Drs. P. Kianto Atmodjo, M.Si. (Dosen Biologi); dan apt. Ines Septi Arsiningtyas, S.Farm., M.Sc., Ph.D. (Dosen Biologi); serta Vincentius Tri Setyo Budi, S.Si. selaku Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP) FTb UAJY.
Komposisi tim yang mencakup biologi, arsitektur, ekonomi pembangunan dan kefarmasian ini bukan kebetulan. Degradasi ekosistem Bukit Turgo merupakan persoalan multidimensi yang tidak bisa diselesaikan dari satu sudut pandang keilmuan saja. Dibutuhkan pendekatan holistik yang menyentuh aspek ekologi, tata ruang, ekonomi komunitas, hingga potensi pemanfaatan sumber daya hayati secara bertanggung jawab.
Program Hibah Bestari Saintek dirancang untuk mendorong riset yang berorientasi pada solusi nyata, bukan sekadar publikasi akademik. Konsep utamanya adalah living lab, yaitu laboratorium hidup di lapangan, dengan lokasi penelitian menjadi arena intervensi langsung dengan fokus isu yang terukur dan terdefinisi jelas.
Dalam konteks Bukit Turgo, living lab ini akan menjadi wahana pemulihan ekosistem yang terdegradasi sekaligus laboratorium pengembangan kapasitas masyarakat. Program yang akan berjalan selama satu tahun ini menargetkan empat sasaran utama, yakni pemulihan ekosistem dan keanekaragaman hayati, perbaikan tata kelola kawasan, peningkatan literasi konservasi warga dan penguatan kapasitas ekonomi dan teknologi masyarakat sekitar.
“Kami perlu mendorong keterlibatan masyarakat agar tertarik untuk berpartisipasi, meskipun waktu yang tersedia terbatas, dengan harapan program ini dapat berkelanjutan,” kata Prof. Pramana, dalam keterangannya, Senin (4/5/2026).
Prof. Pramana tidak menutup mata terhadap tantangan yang menghadang. Dia mengakui bahwa mengelola tim besar dari berbagai disiplin ilmu, sekaligus melibatkan mahasiswa dan mendorong partisipasi aktif masyarakat, bukanlah perkara mudah, apalagi dalam rentang waktu satu tahun yang relatif terbatas.
“Kami perlu mendorong keterlibatan masyarakat agar tertarik untuk berpartisipasi, meskipun waktu yang tersedia terbatas, dengan harapan program ini dapat berkelanjutan,” ujarnya.
Dia juga mengungkapkan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan melalui hibah ini, sekaligus mengajak seluruh sivitas akademika UAJY untuk tidak ragu mengikuti program serupa. Menurut dia, program seperti Bestari Saintek bukan sekadar sumber pendanaan, melainkan kesempatan nyata untuk menghasilkan riset yang berdampak langsung bagi masyarakat dan lingkungan.
Kesuksesan living lab ini tidak akan berdiri sendiri. Tim UAJY merancang kolaborasi dengan sejumlah mitra strategis yang memiliki kehadiran dan kepercayaan di wilayah Bukit Turgo. Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) dan pemerintah daerah setempat bertindak sebagai mitra utama yang menjamin legitimasi dan dukungan kelembagaan program.
Sementara itu, mitra pendamping terdiri dari Kelompok Tani Hutan (KTH) Desa Wisata Turgo dan Kelompok Kreatif Acacia, dua entitas komunitas yang menjadi jembatan antara program riset dan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dukungan tambahan datang dari LSM Endemic Community Indonesia, yang membawa pengalaman lapangan dalam isu keanekaragaman hayati dan konservasi berbasis komunitas.
Jejaring mitra yang beragam ini mencerminkan keyakinan tim bahwa pemulihan ekosistem hanya akan berhasil jika masyarakat lokal ditempatkan sebagai mitra aktif, bukan sekadar objek program.
Keberhasilan meraih Hibah Bestari Saintek ini menjadi tonggak penting bagi UAJY dalam membuktikan komitmennya terhadap riset yang tidak hanya berkualitas secara akademik, tetapi juga relevan dan berdampak bagi masyarakat luas.
Dengan pendekatan lintas disiplin yang aplikatif, penelitian Living Lab Biodiversitas Bukit Turgo diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi untuk pemulihan kawasan ekosistem lain yang mengalami degradasi serupa.
Prof. Pramana berharap keberhasilan ini dapat menjadi inspirasi dan dorongan bagi dosen-dosen lain di UAJY untuk berani mencoba mengikuti program hibah kompetitif nasional, sebuah langkah yang menurutnya tidak hanya meningkatkan kualitas riset institusi, tetapi juga memperluas kontribusi nyata perguruan tinggi bagi masyarakat dan lingkungan hidup.
“Di Bukit Turgo, alam kini menunggu tangan-tangan ilmiah yang datang bukan untuk sekadar mengamati, melainkan untuk memulihkan dan memberdayakan,” ungkapnya. ***
