BANDAR LAMPUNG — Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan sektor pertanian tetap menjadi kunci utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah hingga 8 persen.
Penegasan itu disampaikan saat membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Provinsi Lampung 2026 untuk penyusunan RKPD 2027 di Balai Keratun, Senin (13/4/2026).
“Sekitar sepertiga PDRB Lampung ditopang sektor pertanian dengan jutaan warga menggantungkan hidup di dalamnya,” ujarnya.
Namun, ia mengakui selama ini sistem ekonomi belum berpihak pada petani, ditandai pendapatan rendah akibat fluktuasi harga dan rantai distribusi panjang.
“Petani selama ini hanya mendapat keuntungan kecil. Ini yang harus kita benahi,” tegasnya.
Ia menyebut intervensi kebijakan harga mulai berdampak, di mana harga gabah yang mencapai Rp6.500 per kilogram mampu mendongkrak pendapatan petani hingga Rp3–4 juta per bulan.
“Produksi juga meningkat sekitar 14 persen seiring membaiknya distribusi pupuk,” imbuhnya.
Pemprov Lampung kini menyiapkan langkah lanjutan, mulai dari program pupuk organik cair di seluruh desa hingga penyediaan 500 unit alat pengering (dryer) untuk mendukung hilirisasi komoditas.
“Kita ingin petani tidak lagi menjual bahan mentah, tapi produk bernilai tambah,” ujarnya.
Selain itu, penguatan sumber daya manusia juga dilakukan melalui pelatihan vokasi dan program tenaga kerja migran, termasuk peluang kerja ke Jepang.
Sementara itu, perwakilan pemerintah pusat dan DPRD menekankan pentingnya sinkronisasi kebijakan dan percepatan pembangunan infrastruktur, khususnya irigasi, untuk mendukung produktivitas pertanian.
Ketua DPRD Lampung Ahmad Giri Akbar mengingatkan masih adanya persoalan klasik seperti banjir dan kekeringan akibat belum optimalnya sistem irigasi.
Musrenbang ini menjadi forum strategis untuk menyatukan arah pembangunan pusat dan daerah guna mendorong pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan, dan memperkuat ekonomi desa di Lampung.
