JAKARTA — Menteri Perdagangan Budi Santoso optimistis pertumbuhan ekspor Indonesia mencapai 5,5–6,5 persen pada 2026. Optimisme itu didukung pertumbuhan ekspor sebesar 4,7 persen sepanjang Januari–Agustus 2026.

Budi menyampaikan target tersebut dalam Rapat Pimpinan Nasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia 2026 di Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Ia mengakui kinerja perdagangan sempat mengalami penurunan hingga defisit pada Mei–Juni 2026. Menurutnya, kondisi tersebut turut dipengaruhi tingginya harga minyak pada Maret.

Meski demikian, pemerintah masih berharap pertumbuhan ekspor mencapai target hingga akhir Desember 2026.

Kementerian Perdagangan mengoptimalkan peran atase perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) untuk memperluas pasar ekspor Indonesia. Perwakilan tersebut tersebar di 33 negara dengan total 46 kantor perwakilan.

Budi mengatakan, perwakilan perdagangan harus aktif membantu eksportir menemukan pembeli di pasar internasional. Pemerintah berperan mengoordinasikan upaya perluasan pasar tersebut.

Berdasarkan data Kemendag yang disampaikan Budi, nilai ekspor Indonesia mencapai 193,64 miliar dolar AS selama Januari–Agustus 2026. Industri pengolahan menjadi penopang utama dengan kontribusi 82,40 persen atau senilai 159,55 miliar dolar AS.

Kemendag juga menjalankan tiga program prioritas, yakni Pengamanan Pasar Dalam Negeri, Perluasan Pasar Ekspor, dan Dari Lokal untuk Global. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat pasar domestik, memperluas akses ekspor, dan meningkatkan daya saing produk lokal.

Target pertumbuhan ekspor 5,5–6,5 persen masih berupa sasaran pemerintah. Realisasi akhir tahun baru dapat dipastikan setelah data perdagangan 2026 tersedia secara lengkap.