Batujajar, Kabupaten Bandung Barat – Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan bahwa peluncuran distribusi Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk tahun 2026 telah dimulai dengan lancar. Pernyataan ini dikemukakan langsung oleh jajaran direksi BGN dalam kunjungan kerja sekaligus peresmian simbolis Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, pada Kamis, 8 Januari 2026.
Kunjungan ini, menurut Direktur Manajemen Risiko BGN, Rufriyanto Maulana Yusuf, merupakan bagian dari agenda pemantauan operasional secara langsung di lapangan. “Hari ini memiliki makna ganda. Pertama, sebagai hari pertama pendistribusian MBG di tahun anggaran 2026. Kedua, sebagai momen tepat satu tahun berjalannya program nasional ini, yang resmi dimulai pada 6 Januari 2025,” jelas Rufriyanto di hadapan awak media dan perangkat desa setempat.
Rufriyanto lebih lanjut menerangkan bahwa program MBG yang telah berjalan satu tahun ini diposisikan sebagai fondasi strategis dalam mempersiapkan Generasi Emas Indonesia 2045. Pencapaian signifikan ditunjukkan dengan telah beroperasinya 19.188 SPPG di seluruh Indonesia. Pada hari pertama tahun 2026 ini, distribusi makanan bergizi dilakukan secara serentak di seluruh titik layanan tersebut, menjangkau 55,1 juta penerima manfaat yang terdaftar.
“Fokus kami hari ini adalah memastikan dua hal bahwa mekanisme pendistribusian berjalan tertib sesuai petunjuk teknis yang berlaku, dan bahwa menu yang sampai ke tangan penerima manfaat telah memenuhi standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) serta memperhatikan potensi kearifan lokal,” paparnya lebih rinci. Ia menambahkan, untuk mengantisipasi hari libur nasional seperti saat ini, BGN telah menerbitkan surat edaran khusus yang mengatur pola distribusi dan jenis menu yang dapat disajikan.
Untuk menjamin kualitas gizi, setiap SPPG di tingkat kelurahan atau desa telah ditetapkan untuk memiliki setidaknya satu tenaga ahli gizi. Tenaga inilah yang bertanggung jawab melakukan kalkulasi dan supervisi terhadap setiap menu, baik yang bersifat kering, basah, maupun siap santap. Dari sisi logistik dan rantai pasok, BGN mengklaim telah melibatkan berbagai pelaku ekonomi lokal, mulai dari Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), koperasi, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), hingga supplier terpercaya yang telah melalui proses verifikasi.
“Kami tidak menutup mata bahwa dalam perjalanan satu tahun ini masih banyak catatan perbaikan. Komitmen kami adalah terus menyempurnakan program ini berdasarkan masukan dari masyarakat, hasil evaluasi internal, dan tentunya arahan dari Bapak Presiden,” imbuh Rufriyanto. Dalam konteks standarisasi, ia mengungkapkan bahwa saat ini lebih dari 3.000 SPPG telah mengantongi sertifikasi Keamanan Pangan Industri Rumah Tangga (SPIRT) dan sertifikasi halal, sedangkan unit layanan sisanya masih dalam tahap pendaftaran dan proses sertifikasi.
Di sisi mitra pelaksana, Owner SPPG yang dikelola Yayasan Pramaguna Nasional, Hendrik Irawan, menyampaikan apresiasinya atas kepercayaan yang diberikan. “Keikutsertaan kami dalam program MBG adalah suatu kehormatan. Ini merupakan wujud nyata perhatian negara. Kami bertekad memberikan kontribusi terbaik melalui pelayanan dan jaminan kualitas yang optimal,” ucap Hendrik.

Dia memaparkan bahwa kapasitas produksi dapur pusat yang dikelolanya dapat mendukung distribusi untuk 24.000 hingga 34.000 penerima manfaat. Khusus untuk wilayah Desa Pangauban, dari kuota alokasi sebanyak 8.000 porsi, saat ini telah terdistribusi sekitar 5.000 porsi. Hendrik membuka peluang bagi warga sekitar yang memenuhi kriteria namun belum terdaftar untuk segera mendaftarkan diri. “Kami juga menyatakan kesiapan untuk bertanggung jawab penuh atas kualitas menu yang dihasilkan dan terbuka terhadap segala bentuk masukan, kritik, maupun pengaduan dari masyarakat,” tegasnya.
Secara terpisah, Kepala SPPG Pangauban, Ahmad Sopyan, menegaskan komitmen operasional di tingkat tapak. “Ke depan, kami akan terus meningkatkan kualitas pelayanan dan cita rasa makanan. Target kami adalah memberikan yang terbaik bagi para penerima manfaat,” ujarnya. SPPG di bawah pengelolaannya saat ini melayani kurang lebih 4.000 warga, yang terdiri dari ibu hamil, anak-anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dan kelompok lanjut usia (lansia). Jumlah tersebut ditargetkan akan mengalami peningkatan signifikan menjadi 12.000 penerima manfaat pada bulan berikutnya.

Kedepannya, program MBG akan terus mengalami proses evaluasi dan peningkatan kualitas secara berkelanjutan. Hal ini seiring dengan ambisi perluasan cakupan penerima manfaat hingga mencapai 82,9 juta orang. BGN menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat aspek tata kelola, transparansi, dan akuntabilitas program, demi mewujudkan tujuan jangka panjang menyiapkan anak-anak Indonesia yang sehat dan berkualitas menuju Indonesia maju.
