SERANG – Jumlah penduduk miskin di Provinsi Banten mengalami penurunan. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Banten, per Maret 2025 jumlah penduduk miskin tercatat 772,78 ribu orang (5,63%), turun 4,7 ribu orang dibanding September 2024 yang mencapai 777,49 ribu orang (5,70%).
Penurunan tersebut didorong sejumlah faktor, di antaranya inflasi yang terkendali di angka 0,70% (yoy), pertumbuhan industri pengolahan, serta meningkatnya konsumsi rumah tangga.
Rata-rata rumah tangga miskin di Banten saat ini memiliki 5,22 anggota, dengan garis kemiskinan pengeluaran sebesar Rp3,57 juta per rumah tangga atau Rp684 ribu per kapita per bulan.
Adapun kontribusi makanan terhadap garis kemiskinan mencapai 73,01%. Komoditas utamanya meliputi beras, telur ayam ras, rokok filter, dan kopi bubuk. Sementara itu, dari sisi non-makanan, beban terbesar datang dari biaya perumahan, bensin, pendidikan, listrik, dan kebutuhan pokok lainnya.
Sejak pandemi Covid-19 mereda, tren kemiskinan di Banten terus menunjukkan penurunan. Dari 6,24% pada September 2022, turun menjadi 5,63% pada Maret 2025.
Namun, ada catatan penting dari BPS. Meski angka kemiskinan secara keseluruhan menurun, penduduk miskin di perkotaan justru bertambah 21,4 ribu orang, menjadi 5,58%. Sementara di perdesaan turun 26,1 ribu orang, menjadi 5,89%.
BPS mencatat empat faktor yang paling memengaruhi penurunan kemiskinan di Banten:
- Penurunan tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 0,38%.
- Inflasi yang terkendali sepanjang Maret 2024–Maret 2025.
- Konsumsi rumah tangga meningkat: 4,61% (Q3 2024) dan 5,48% (Q1 2025).
- Pertumbuhan industri pengolahan sebesar 0,61% (q-to-q) dan 4,51% (y-o-y).
Laporan lengkap dirilis dalam Berita Resmi Statistik No. 35/07/36/Th. XIX oleh BPS Banten pada 25 Juli 2025.
