PANDEGLANG – Beragam tanggapan dari berbagai kalangan menilai dan merespon program kerja 100 hari kepemimpinan Andra Soni-Dimyati dalam memimpin Provinsi Banten 2025-2030 menuju Banten Maju dan tidak korupsi.

Salah satunya dari Teguh Fachmi selaku Koordinator Kaukus Akademisi Pandeglang menilai bahwa “Pak Gubernur Sibuk Bekerja, Lupa Ngonten-Bercerita tentang Kerjanya”
Meski sejumlah indikator kinerja menunjukkan arah yang progresif.

“Contohnya, janji kampanye di 100 hari kerja tuntas ditunaikan, ternyata tingkat kepuasan publik tidak sepenuhnya merefleksikan capaian tersebut. Ini menandakan adanya jarak antara kerja nyata dan persepsi public, sebuah celah yang seharusnya dijembatani melalui komunikasi yang efektif dan strategis,” tutur Teguh Fachmi saat berbincang dengan media, pada Sabtu (31/05/2025).

Dikatakan Teguh salah satu akademisi di universitas di Banten ini menyampaikan, bahwa hasil survei dari Indikator Politik Indonesia mengenai tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Gubernur Banten Andra Soni, membuka ruang refleksi yang penting, khususnya dalam aspek komunikasi politik.

“Ini harus disampaikan untuk lebih baik kedepan kepemimpinan Pak Andra sebagai Gubernur dan Pak Dimyati sebagai Wakil Gubernur Banten agar bisa bergerak cepat mengambil langkah strategis dan nyata dilakukan untuk Banten Maju dan tidak korupsi,” katanya.

Dijelaskannya, dalam mengamati kinerja Andra-Dimyati Pertama, Andra Soni tampaknya sangat fokus bekerja. Ia rajin turun ke lapangan, merancang kebijakan, dan mempercepat program strategis Pembangunan di provinsi Banten. Namun, kesibukan tersebut membuatnya “lupa” bahwa keberhasilan tak hanya diukur dari hasil kerja semata, tetapi juga dari kemampuan menyampaikan kerja tersebut kepada publik secara efektif.

“Dalam era demokrasi digital dan era keterbukaan informasi saat ini, kinerja yang baik tanpa strategi komunikasi yang tepat dapat berujung pada kesalahpahaman publik dan rendahnya kepercayaan masyarakat,” terangnya.

“Belajar dari Gubernur Jawa Barat KDM, Ia bukan hanya mampu menyampaikan hasil kerjanya melalui media massa, tapi ia juga mampu mengajak warga seolah-seolah warga ikut terlibat dan berpartisipasi aktif dalam setiap pengambilan kebijakan-kebijakan yang diambilnya,” sambungnya.

Lanjut Teguh, bahwa dalam ilmu komunikasi politik, delivery atau penyampaian pesan merupakan kunci keberhasilan membentuk opini publik. Tanpa pengemasan pesan yang tepat, baik melalui media massa maupun media sosial.

“Kerja pemerintah bisa saja disalahpahami, atau lebih buruk lagi, tidak dianggap relevan oleh masyarakat. Oleh karena itu, menjadi sangat penting bagi Andra Soni untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap strategi komunikasinya, bukan untuk sekadar memoles citra, tetapi agar kebijakan dan kinerja yang telah dibangun dapat dipahami, diapresiasi, dan didukung secara luas,” ujarnya.

Yang kedua, dijelaskannya lagi bahwa konten sosial media Pemerintah Provinsi Banten masih kerap terjebak dalam pola komunikasi satu arah. Banyak unggahan yang hanya bersifat informatif dan normatif tanpa strategi narasi yang kuat, tanpa manajemen isu yang tepat, dan tanpa daya tarik emosional memikat yang bisa membangun koneksi dengan publik.

“Di tengah derasnya arus informasi digital, konten yang tidak memiliki “ruh” naratif dan daya sengat visual akan cepat tenggelam di antara ribuan informasi lain yang berseliweran di linimasa masyarakat,” jelasnya.

Dan yang ketiga tambahnya, Gubernur Andra Soni perlu mengevaluasi secara serius bagaimana cara pemerintahannya mengomunikasikan hasil kerja melalui media massa dan sosial media. Komunikasi politik bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi mengelola persepsi dan membangun kepercayaan. Dibutuhkan tim komunikasi yang bukan hanya mahir dalam produksi konten, tetapi juga memahami strategi komunikasi politik, segmentasi audiens, dan pemanfaatan platform media secara maksimal.

“Dengan memperbaiki aspek komunikasi ini, bukan tidak mungkin tingkat kepuasan warga Banten terhadap Gubernurnya akan semakin menguat, tidak hanya karena mereka melihat hasil kerja, tetapi karena mereka merasa dilibatkan, dipahami, dan diberi ruang untuk ikut membangun provinsi ini,” imbuhnya.

“Andra Soni punya peluang besar, asalkan tidak hanya sibuk bekerja, tetapi juga mampu bercerita tentang kerjanya. Karena pada akhirnya, di era demokrasi modern, keberhasilan pemimpin tidak hanya diukur dari apa yang telah dikerjakan, tetapi dari bagaimana masyarakat merasakannya,” pungkas Teguh yang juga Ketua Pemuda Muhammadiyah Pandeglang.