Ketua PWI Kabupaten Semarang masa bakti 2026–2029, Rony Yuwono, menegaskan kepengurusan baru berkomitmen memperkuat profesionalisme wartawan, menjaga integritas jurnalistik, serta membangun organisasi yang mandiri dan berdaya saing.

Komitmen tersebut dituangkan dalam tema kepengurusan, yakni “Merawat Ekosistem Pers Profesional, Adaptif dan Berintegritas, Perkuat Solidaritas PWI Kabupaten Semarang Berdikari.”

Rony mengatakan, tema tersebut bukan sekadar slogan, melainkan arah perjuangan bersama untuk menjaga kehormatan profesi wartawan sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pers.

“Amanah ini bukan sekadar kehormatan, melainkan tanggung jawab untuk menjaga marwah profesi wartawan, memperkuat organisasi, dan menghadirkan pers yang bermanfaat bagi masyarakat,” kata Rony.

Ia menegaskan, profesionalisme merupakan fondasi utama dalam membangun ekosistem pers yang sehat. Setiap wartawan harus berpegang pada Kode Etik Jurnalistik, mengutamakan akurasi, menjaga independensi, serta menyampaikan informasi secara benar dan berimbang.

“Kepercayaan publik adalah modal utama pers yang tidak boleh kita abaikan. Karena itu, profesionalisme dan integritas harus menjadi prinsip yang melekat dalam setiap kerja jurnalistik,” tegasnya.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan transformasi media digital, Rony menilai wartawan dituntut terus meningkatkan kompetensi dan beradaptasi dengan perubahan zaman.

Namun, adaptasi teknologi tidak boleh mengesampingkan prinsip jurnalistik. Kecepatan dalam menyampaikan informasi harus tetap diimbangi dengan akurasi, verifikasi, dan tanggung jawab kepada masyarakat.

“Kita boleh berubah dalam cara bekerja, tetapi tidak boleh kehilangan prinsip dan nilai-nilai jurnalistik,” ujarnya.

Selain profesionalisme dan integritas, Rony menempatkan solidaritas sebagai salah satu prioritas kepengurusan PWI Kabupaten Semarang selama periode 2026–2029.

Ia berharap PWI menjadi rumah bersama bagi seluruh anggota untuk belajar, berdiskusi, berkembang, dan saling menguatkan dalam menghadapi berbagai tantangan industri media.

Menurutnya, perbedaan pendapat di dalam organisasi merupakan hal yang wajar. Namun, setiap perbedaan perlu disikapi secara dewasa dengan mengedepankan komunikasi dan sikap saling menghormati.

“Solidaritas bukan berarti selalu sepakat, melainkan tetap saling menghormati, menjaga kebersamaan, dan menyelesaikan perbedaan secara dewasa,” katanya.

Rony juga mengajak seluruh anggota meninggalkan ego sektoral, memperkuat komunikasi, dan menyatukan langkah demi kemajuan organisasi. Ia menegaskan, pembangunan organisasi bukan hanya menjadi tanggung jawab ketua dan jajaran pengurus, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh anggota.

“Kami terbuka dengan kritik, saran, dan masukan sebagai bagian penting dalam proses pembenahan dan pengembangan organisasi,” ujarnya.

Dalam menjalankan program organisasi, lanjut Rony, PWI Kabupaten Semarang juga berkomitmen membangun hubungan konstruktif dengan pemerintah daerah, dunia usaha, dan berbagai elemen masyarakat.

Rony berharap kemitraan tersebut dapat mendukung pembangunan daerah melalui pemberitaan yang berkualitas, edukatif, dan bertanggung jawab. Namun, kemitraan itu harus tetap berjalan dengan menjaga sikap kritis serta independensi pers.

“Kita ingin PWI hadir bukan hanya sebagai organisasi profesi, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam membangun Kabupaten Semarang melalui pemberitaan yang berkualitas, edukatif, dan bertanggung jawab,” tuturnya.

Melalui kepengurusan masa bakti 2026–2029, Rony berharap PWI Kabupaten Semarang dapat tumbuh menjadi organisasi yang terbuka, solid, profesional, dan bermanfaat bagi anggota maupun masyarakat luas.

“PWI Kabupaten Semarang meneguhkan komitmen untuk terus merawat profesionalisme, menjaga integritas, memperkuat solidaritas, dan membangun kemandirian organisasi demi kemajuan pers dan masyarakat Kabupaten Semarang,” tandasnya.