SUKABUMI – Di tengah hijaunya kawasan Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, tumbuh sebuah destinasi agrowisata berbasis konservasi tanaman anggrek yang kian menarik perhatian masyarakat. Lebih dari sekadar tempat rekreasi, agrowisata ini menjadi pusat edukasi dan pelestarian berbagai jenis anggrek, khususnya yang terancam punah akibat alih fungsi lahan.
Agrowisata Konservasi Anggrek Waluran menawarkan pengalaman unik kepada pengunjung melalui koleksi beragam jenis anggrek lokal dan hibrida. Pengunjung tidak hanya dapat menikmati keindahan bunga-bunga eksotis, tetapi juga belajar langsung mengenai teknik budidaya anggrek, mulai dari pembibitan hingga perawatan tanaman secara berkelanjutan.
Selain itu, tempat ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang seperti taman bunga, spot foto Instagramable, serta toko suvenir yang menjual bibit anggrek dan produk olahan berbasis tanaman. Kehadiran fasilitas ini menjadikan agrowisata ini tidak hanya menarik, tetapi juga berdaya guna secara ekonomi dan edukatif.
Menurut pengelola, Dede Risman yang akrab disapa Cemeng, menyampaikan program konservasi ini lahir dari keprihatinan terhadap makin langkanya spesies anggrek endemik Sukabumi. “Program ini bertujuan melindungi anggrek lokal dari ancaman kepunahan, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan,” ujarnya, Selasa (6/5/2025).
Dede menambahkan, agrowisata ini juga melibatkan masyarakat sekitar dalam operasional dan pengelolaan harian, yang secara langsung membuka lapangan kerja baru dan menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap pelestarian alam di daerah mereka.
Dengan konsep menyatu antara wisata, edukasi, dan konservasi, Agrowisata Konservasi Anggrek Waluran diyakini akan menjadi destinasi unggulan yang memberi dampak positif bagi lingkungan dan ekonomi masyarakat lokal.
