SUKABUMI – Di sudut Kampung Palayangan Legok Picung, Desa Sukamanah, Kecamatan Cimanggu, tersembunyi sebuah keajaiban alam sekaligus saksi bisu sejarah perjuangan rakyat yang bernama Goa Baduy. Tak sekadar menjadi destinasi wisata alam, goa ini menyimpan kisah masa lalu, bentang keindahan yang liar, dan harapan baru bagi geliat ekonomi warga desa.
Goa Baduy bukan sekadar lubang di bukit kapur. Goa ini dipercaya pernah menjadi tempat persembunyian para pribumi dari serdadu Belanda pada masa penjajahan. Lintasan sejarah itu masih terpatri di benak warga tua, dituturkan turun-temurun sebagai kisah bertahan dan melawan.
Nama “Baduy” sendiri baru disematkan sekitar 40 tahun silam, ketika seorang warga suku Baduy luar bernama Karsim menjelajahi goa ini untuk mencari kelelawar. Dari situlah, masyarakat mulai mengenali karakteristik gua: gelap, lembab, dan dipenuhi koloni kelelawar yang beterbangan bebas di langit-langit batu kapur.
Goa ini membentang sepanjang 700 meter, dengan lebar 4 hingga 10 meter, dan kedalaman mencapai 50 meter. Bagian dalamnya terasa seperti aula alam dengan langit-langit setinggi 12 meter dihiasi stalaktit dan stalagmit yang terbentuk dari proses ribuan tahun pengendapan mineral.
Namun kejutan Goa Baduy tidak berhenti di situ. Aliran sungai bawah tanah Ciawitali Leuwi Surupan membelah perut goa, menawarkan pengalaman susur sungai yang eksotis dan menantang. Tiga danau kecil yang tersembunyi di dalamnya memantulkan cahaya senter seperti kaca—tempat para wisatawan kerap berbasah-basahan sambil menikmati sejuknya gua.
“Goa Baduy bukan cuma indah, tapi juga sakral bagi warga. Ini simbol perjuangan, sekaligus sumber kehidupan lewat wisata,” ujar seorang pengelola dari Karang Taruna setempat.
Pengelolaan Goa Baduy kini menjadi model sinergi warga. Dikelola secara swadaya oleh masyarakat, terutama pemuda Karang Taruna, LPM, dan Linmas Desa Sukamanah, wisata ini hadir bukan hanya sebagai destinasi alam, tapi juga ruang edukasi dan pemberdayaan.
Pengunjung bisa menyewa senter, helm, pelampung, hingga ban untuk petualangan arung jeram mini di sungai dalam goa. Tersedia pula saung santai, taman bermain anak, taman bacaan, warung kuliner lokal, MCK, hingga musala.
Ke depan, Goa Baduy akan dikembangkan dengan jalur panjat tebing setinggi 75 meter dan wahana flying fox yang dibangun di bibir mulut goa. Fasilitas ini ditargetkan untuk menarik lebih banyak wisatawan pencinta tantangan dan petualangan.
“Kami ingin Goa Baduy jadi wisata berbasis warga, bukan hanya tempat selfie. Ini alam kami, sejarah kami, dan harapan kami,” ujar seorang tokoh masyarakat Desa Sukamanah.
Dengan segala keunikan yang ditawarkan—dari bentang alam, nilai sejarah, hingga peran aktif warga—Goa Baduy menjelma menjadi permata tersembunyi di selatan Sukabumi, menanti dijelajahi oleh siapa pun yang mencintai alam dan menghargai sejarah.
