SIMALUNGUN — Keberadaan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, tak hanya berkaitan dengan aktivitas produksi. Di Kebun Bah Jambi, kegiatan perkebunan turut menggerakkan ekonomi masyarakat melalui penyerapan tenaga kerja dan program sosial.

Kebun Bah Jambi merupakan salah satu unit usaha PTPN IV Regional 2 yang beroperasi di Kecamatan Jawa Maraja Bah Jambi dan Kecamatan Tanah Jawa.

Dari total 612 karyawan, lebih dari 500 orang atau sekitar 80 persen merupakan warga lokal dari desa-desa di sekitar kawasan perkebunan.

Kepala Bagian Sekretariat dan Hukum PTPN IV Regional 2 Muhammad Ridho Nasution mengatakan, penyerapan tenaga kerja lokal menjadi salah satu kontribusi ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat.

“Kontribusi Kebun Bah Jambi terhadap masyarakat tidak hanya terlihat dari program TJSL. Ada lebih dari 500 warga lokal yang bekerja di kebun dan memperoleh penghasilan dari aktivitas operasional,” ujar Ridho.

Menurut dia, pendapatan pekerja turut menggerakkan aktivitas ekonomi rumah tangga dan masyarakat sekitar.

Dengan pola tersebut, keberadaan perkebunan tidak hanya menyediakan pekerjaan di lingkungan perusahaan, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan kegiatan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Bantuan Sosial hingga Penguatan Usaha

Selain menyerap tenaga kerja lokal, Kebun Bah Jambi menyalurkan kontribusi melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Program tersebut mencakup dukungan terhadap fasilitas ibadah, fasilitas publik, pengembangan usaha masyarakat, hingga kegiatan penghijauan.

Ridho mengatakan, perusahaan menyusun program TJSL dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan lembaga di sekitar wilayah operasional.

“Kami berupaya agar program TJSL benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar Kebun Bah Jambi,” kata Ridho, Selasa (1/9/2026).

Pada 2024, salah satu realisasi program TJSL berupa pembangunan tempat parkir dan pemasangan keramik di Masjid Zahra Al Mukhlisin.

Program serupa berlanjut pada 2025 melalui pembangunan tempat ibadah, pemberian bibit ikan, dan kegiatan penghijauan.

Sementara pada 2026, Kebun Bah Jambi merealisasikan sejumlah bantuan, termasuk dukungan sarana dan alat produksi bagi Koperasi Produsen Pandai Besi Tanah Jawa Simalungun.

Dukungan tersebut diarahkan untuk membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas produksi.

Penguatan fasilitas produksi dinilai memiliki manfaat jangka panjang karena dapat digunakan untuk menopang aktivitas ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

“Penguatan ekonomi masyarakat menjadi salah satu hal yang penting. Ketika usaha masyarakat berkembang, manfaatnya akan kembali kepada keluarga dan lingkungan tempat mereka menjalankan kegiatan usaha,” ujar Ridho.

Kontribusi Hampir Rp400 Juta

Kontribusi sosial di kawasan Bah Jambi juga dilakukan melalui Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Bah Jambi.

Unit tersebut turut menjalankan program TJSL bagi masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya.

Jika digabungkan, nilai bantuan yang disalurkan Kebun Bah Jambi dan PKS Bah Jambi hampir mencapai Rp400 juta.

Nilai tersebut menunjukkan salah satu bentuk kontribusi sosial perusahaan kepada masyarakat.

Namun, dampak ekonomi perusahaan tidak hanya berasal dari bantuan sosial. Aktivitas utama perkebunan juga memberikan kontribusi melalui penyerapan tenaga kerja lokal.

Dengan lebih dari 500 pekerja lokal, aktivitas operasional perkebunan ikut menjadi bagian dari perputaran ekonomi masyarakat di sekitar wilayah Bah Jambi.

Melewati Sejarah Panjang Perkebunan

Kebun Bah Jambi memiliki sejarah panjang yang bahkan mendahului struktur kelembagaan PTPN saat ini.

Berdasarkan catatan sejarah unit usaha, kawasan tersebut awalnya dikelola perusahaan swasta Belanda, NV Handels Vereeniging Amsterdam (HVA).

Komoditas yang dikembangkan ketika itu berupa sisal atau Agave sisalana.

Pengelolaan berubah setelah Pemerintah Republik Indonesia mengambil alih aset tersebut pada 2 Mei 1959 berdasarkan Peraturan Nomor 19 Tahun 1959.

Setelah nasionalisasi, pengelolaan Kebun Bah Jambi secara bertahap masuk ke dalam sistem perusahaan perkebunan negara.

Perubahan kelembagaan kemudian terus berlangsung hingga pada 1996 kebun tersebut menjadi bagian dari PT Perkebunan Nusantara IV.

Transformasi kembali terjadi pada 2014-2015 ketika Kementerian BUMN menunjuk PTPN III (Persero) sebagai induk Holding Perkebunan Nusantara.

Selanjutnya, pada 2023 dibentuk Subholding PalmCo dengan PTPN IV sebagai induknya.

Dalam struktur tersebut, Kebun Bah Jambi kini menjadi salah satu unit usaha PTPN IV Regional 2.

Bagi perusahaan, perubahan organisasi tersebut tidak mengubah kebutuhan untuk menjaga hubungan dengan masyarakat sekitar.

Aktivitas produksi perkebunan berjalan berdampingan dengan kehidupan sosial dan ekonomi warga di wilayah operasional.

“Bagi PTPN IV Regional 2, masyarakat sekitar merupakan bagian penting. Karena itu kami berupaya agar manfaat perusahaan dapat dirasakan secara nyata oleh warga,” kata Ridho.

Manfaat tersebut, lanjut dia, diwujudkan melalui kesempatan kerja serta berbagai dukungan terhadap fasilitas dan kegiatan masyarakat.

Dengan demikian, keberadaan Kebun Bah Jambi tidak hanya tercermin dari aktivitas produksi kelapa sawit, tetapi juga dari keterlibatannya dalam dinamika ekonomi masyarakat sekitar.