Pekanbaru — PTPN IV PalmCo memadukan digitalisasi, mekanisasi, dan kemitraan petani untuk memperkuat produktivitas industri sawit nasional di SIEXPO 2026.

Perusahaan perkebunan BUMN itu menampilkan inovasi dari sektor hulu hingga hilir dalam Sawit Indonesia Expo (SIEXPO) 2026.

Ajang tersebut berlangsung di SKA Convention and Exhibition, Pekanbaru, Riau, pada Agustus 2026 dan melibatkan ratusan peserta dari dalam maupun luar negeri.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan perusahaan mendorong transformasi industri sawit melalui teknologi, keberlanjutan, dan kemitraan.

“Melalui ajang SIEXPO 2026 di Pekanbaru, kami membawa semangat keberlanjutan, transformasi, dan kemitraan,” kata Jatmiko.

Menurut dia, PalmCo tidak lagi memandang industri sawit sebatas aktivitas kebun dan pabrik, tetapi sebagai ekosistem terintegrasi.

Ekosistem tersebut mencakup inovasi digital, mekanisasi, pemberdayaan UMKM, hingga penguatan ketahanan pangan dan energi nasional.

Digitalisasi Masuk ke Operasional Kebun

Di area pameran, PalmCo menampilkan tandan buah segar varietas 540 hasil riset Pusat Penelitian Kelapa Sawit.

TBS tersebut memiliki bobot sekitar 50 kilogram dan menjadi salah satu contoh hasil pengembangan teknologi budidaya sawit.

PalmCo juga memperkenalkan drone sprayer serta drone geospasial untuk mendukung pengelolaan perkebunan secara lebih presisi.

Selain itu, perusahaan menampilkan PalmCo Business Cockpit sebagai sistem digital untuk memantau operasional perusahaan secara terintegrasi dan real-time.

Kehadiran teknologi tersebut menunjukkan upaya PalmCo meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat pengambilan keputusan berbasis data.

PalmCo juga membuka ruang bagi UMKM mitra binaan TJSL untuk memamerkan produk peralatan pertanian kepada pengunjung.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa transformasi perusahaan tidak hanya menyentuh aspek teknologi, tetapi juga menyasar penguatan ekonomi masyarakat.

Kemitraan Petani Jadi Penopang Produktivitas

Dalam konferensi SIEXPO 2026, Direktur SDM dan Umum PTPN IV PalmCo Suhendri memaparkan strategi kemitraan petani.

Ia menjelaskan, PalmCo menjalankan kemitraan untuk mempersempit kesenjangan produktivitas antara perkebunan rakyat dan perkebunan perusahaan.

Suhendri menyebut sekitar 6,9 juta hektare perkebunan sawit nasional berada dalam pengelolaan petani.

Karena itu, produktivitas kebun rakyat turut menentukan kemampuan industri memenuhi kebutuhan bahan baku nasional.

Kondisi tersebut semakin strategis ketika pemerintah mendorong pemenuhan kebutuhan energi melalui program biodiesel B50.

“Peningkatan produktivitas sawit nasional menjadi tugas utama di hulu,” ujar Suhendri dalam sesi konferensi tersebut.

Ia menyebut peningkatan produktivitas 1,3 ton CPO per hektare dapat menambah produksi nasional sekitar 8,97 juta ton CPO.

Menurut perhitungan teknis PalmCo, tambahan produksi itu dapat memperkuat pasokan domestik tanpa mengganggu alokasi ekspor.

Untuk mencapai sasaran tersebut, PalmCo menjalankan lima program utama dalam kemitraan petani.

Program itu mencakup penyediaan benih, percepatan Peremajaan Sawit Rakyat atau PSR, serta pendampingan agronomis.

Selanjutnya, PalmCo membuka akses pembiayaan dan sarana produksi, memperkuat penyerapan TBS, serta menerapkan sistem grading transparan.

Perusahaan juga memperkuat koperasi dan sistem ketertelusuran atau traceability untuk meningkatkan tata kelola rantai pasok.

Luasan Kemitraan Ditargetkan Terus Bertambah

Pada Mei 2026, PalmCo mencatat luasan lahan kemitraan sawit rakyat mencapai 52.480 hektare.

Cakupan tersebut meliputi revitalisasi perkebunan, konversi karet menjadi sawit, serta program PSR dengan dukungan BPDP.

PalmCo menargetkan luasan kemitraan tersebut meningkat menjadi 64.176 hektare pada 2029.

Namun, perusahaan tidak hanya mengejar perluasan lahan, tetapi juga mendorong peningkatan produktivitas dan penguatan kelembagaan petani.

Suhendri mengatakan PalmCo terus mengawal implementasi lima program tersebut melalui unit operasional dan regional.

“Kami memantau agar petani mitra mendapatkan pendampingan agronomis dan akses penyerapan,” ujar Suhendri.

Ia mencontohkan sejumlah koperasi binaan di Kabupaten Rokan Hulu yang mampu mencapai produktivitas lebih dari 20 ton per hektare.

Pencapaian tersebut sekaligus memperkuat kelembagaan koperasi dan meningkatkan Sisa Hasil Usaha bagi anggota petani.

Dengan demikian, PalmCo menargetkan terbentuknya ekosistem agribisnis yang semakin mandiri dan berkelanjutan.

Hulu Terhubung dengan Hilirisasi

Di sisi lain, PalmCo terus mengembangkan sektor hilir untuk memperluas pemanfaatan produk kelapa sawit.

Perusahaan mengembangkan sejumlah produk turunan, mulai dari biodiesel, minyak goreng, shortening, hingga cocoa butter substitutes atau CBS.

PalmCo juga mendorong pengembangan compressed biomethane gas atau CBG sebagai bagian dari diversifikasi produk dan energi.

Suhendri menegaskan perusahaan ingin menghubungkan peningkatan produktivitas petani dengan penguatan industri hilir.

“PalmCo berupaya menjawab kebutuhan domestik dan ekspor secara bersamaan dengan memperkuat ekosistem secara menyeluruh,” katanya.

Ia menekankan tiga pilar utama, yakni peningkatan produktivitas sektor hulu, percepatan hilirisasi, dan penguatan kemitraan petani.

Melalui strategi tersebut, PalmCo menempatkan inovasi digital dan kemitraan sebagai bagian penting dalam menghadapi tuntutan industri sawit nasional.

Langkah itu sekaligus memperkuat kontribusi sektor sawit terhadap agenda ketahanan pangan dan energi Indonesia.