Tak hanya penyediaan listrik, kerja sama dengan PT Metta Group juga mencakup dukungan sektor perikanan. Perusahaan tersebut akan menyediakan cold storage guna menunjang aktivitas nelayan yang menjadi mayoritas mata pencaharian warga Pulau Tunda.

“Sektor perikanan adalah tulang punggung ekonomi warga. Cold storage sangat penting untuk meningkatkan nilai jual hasil tangkapan nelayan,” tambah Ratu Zakiyah.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pembangunan Desa dan Perdesaan Kemendes PDT, Nugroho Setijo Negoro, menjelaskan bahwa keterlibatan swasta dalam proyek ini merupakan bentuk kerja sama investasi, bukan hibah, yang melibatkan BUMDes sebagai mitra lokal.

“Model kerja sama ini membuka ruang partisipasi masyarakat dan menjamin keberlanjutan program. Masyarakat juga didorong untuk ikut bertanggung jawab terhadap pengelolaan infrastruktur yang dibangun,” jelas Nugroho.

Di sisi lain, CEO PT Aurora Power Indonesia (Metta Group), Katamsi Ginanom, menegaskan bahwa keterlibatan perusahaannya di Pulau Tunda dilandasi komitmen membangun desa, bukan semata pertimbangan bisnis.

“Kami sudah puluhan tahun bekerja di luar negeri. Ini saatnya membayar kembali kepada negeri. Dari sisi bisnis mungkin belum tentu menguntungkan, tetapi sebagai anak bangsa, ini adalah pilihan kami,” ungkap Katamsi.

Ia menambahkan, PT Metta Group berkomitmen membuka akses terhadap modal dan infrastruktur dasar bagi masyarakat kepulauan agar dapat hidup lebih produktif dan sejahtera.

“Kemiskinan sering kali bukan soal sistem, tetapi keterbatasan akses terhadap modal dan infrastruktur dasar,” tandasnya.