SERANG – Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi (HMSI) Universitas Pamulang Kampus Serang kembali menunjukkan komitmen nyata terhadap pemerataan pendidikan melalui program sosial “Ruang Tanpa Batas — Sekolah Pinggir Jalan”, yang berlangsung pada 14–17 Juli 2025 di wilayah Serang.
Program ini mengusung tema “Menyalakan Cahaya Ilmu di Tepian Jalan”, sebagai bentuk kepedulian
terhadap anak-anak dengan akses terbatas terhadap pendidikan formal”.
Dalam konteks ketimpangan pendidikan
yang masih terjadi di berbagai daerah, inisiatif seperti ini bukan hanya relevan, tetapi juga sangat mendesak.
Sekolah Pinggir Jalan berfungsi sebagai ruang pembelajaran alternatif—tempat anak-anak dapat belajar, bermain,
dan berkembang—yang membuktikan bahwa pendidikan tidak harus selalu terikat pada gedung dan struktur
formal.
Pada hari pertama, kegiatan dibuka dengan Ngobrol Santai dan nonton bareng film Alangkah Lucunya Negeri
Ini. Pemilihan film ini bukan tanpa alasan; ironi sosial dalam cerita tersebut menegaskan kenyataan bahwa masih
ada anak-anak yang terpinggirkan dan tidak tersentuh pendidikan layak.
Film ini menjadi medium refleksi bagi
mahasiswa dan peserta bahwa problem ketidaksetaraan tidak boleh hanya dilihat sebagai fenomena, tetapi juga
sebagai panggilan untuk bertindak.
Memasuki hari kedua, pelatihan Calistung (baca, tulis, hitung) serta lomba menggambar menjadi agenda
utama. Calistung dianggap fondasi dalam pendidikan, dan menghadirkannya di ruang nonformal seperti ini
merupakan langkah strategis untuk mempersempit kesenjangan literasi dasar.
Antusiasme anak-anak
menunjukkan bahwa minat belajar sebenarnya tinggi; yang kurang adalah akses dan bimbingan.
Pada hari ketiga, kegiatan diarahkan pada pengembangan kreativitas dan kerja sama melalui kerajinan
tangan serta berbagai fun games edukatif.
Aktivitas seperti ini bukan sekadar permainan, tetapi sarana stimulasi
kognitif dan sosial yang sering kali tidak didapatkan anak-anak di lingkungan dengan fasilitas terbatas.

Sementara itu, hari keempat menjadi puncak kegiatan dengan acara memasak bersama dan pentas seni.
Melalui kegiatan ini, anak-anak tidak hanya belajar keterampilan dasar dan kemandirian, tetapi juga mendapatkan
ruang ekspresi diri—sesuatu yang krusial bagi tumbuh kembang mental dan kepercayaan diri mereka.
Penutupan yang penuh haru membuktikan bahwa interaksi selama beberapa hari ini memiliki dampak emosional dan sosial.
Ketua Umum HMSI UNPAM Serang, Afrizal, menyampaikan apresiasi sekaligus penekanan pentingnya
program ini.
“Ruang Tanpa Batas — Sekolah Pinggir Jalan bukan hanya tentang berbagi ilmu, tetapi tentang mengingatkan kita bahwa pendidikan adalah hak setiap anak, apa pun latar belakangnya. Melalui kegiatan ini, kami ingin mahasiswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peka terhadap realitas sosial,” ujarnya.
Afrizal menambahkan bahwa program ini perlu dijadikan agenda berkelanjutan, bahkan diperluas, mengingat masih banyak wilayah yang memerlukan sentuhan sosial serupa.
Menurutnya, “Mahasiswa harus menjadi motor perubahan, bukan sekadar pengamat di balik layar. Pada akhirnya, kegiatan ini menegaskan satu argumen penting: pendidikan yang merata tidak akan tercapai jika hanya mengandalkan sistem formal. Inisiatif grassroots seperti yang dilakukan HMSI UNPAM Serang menjadi bukti bahwa perubahan dapat dimulai dari gerakan kecil, konsisten, dan berbasis kepedulian”tutup Afrizal.
HMSI Unpam Serang berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut dan menginspirasi mahasiswa di berbagai
kampus untuk turut mengambil peran dalam mewujudkan pendidikan yang benar-benar inklusif di seluruh penjuru.
