BEKASI – Sejumlah permukiman di tiga desa pesisir Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, kembali terendam banjir rob. Genangan air laut yang mencapai ketinggian sekitar 30 centimeter itu melumpuhkan aktivitas warga dan merusak infrastruktur sejak Jumat (7/11) lalu.

Berdasarkan pantauan di lapangan, wilayah terdampak meliputi Desa Pantai Makmur, Desa Segarajaya, dan Desa Samudra Jaya. Di tingkat kampung, kawasan yang paling parah terdampak adalah Kampung Sasak Singkil, Suka Duri, dan Sembilangan di Desa Samudra Jaya; Kampung Muara Tawar di Desa Pantai Makmur; serta Kampung Paljaya di Desa Segarajaya.

Marudin, Ketua LSM Benteng Bekasi DPC Tarumajaya, mengonfirmasi bahwa banjir masih berlangsung hingga hari ini. “Banjir ini sudah terjadi sejak hari Jumat sampai hari ini. Ketinggian air selutut orang dewasa, kurang lebih 30 cm. Hari ini tidak terlalu besar,” ujarnya saat dihubungi, Minggu (9/11). Ia menambahkan, air laut belum menunjukkan tanda-tanda akan surut.

Banjir rob, atau banjir pesisir, terjadi ketika air laut pasang melampaui batas normal. Fenomena ini dipicu oleh faktor alam seperti gravitasi bulan dan cuaca ekstrem, serta diperparah oleh aktivitas manusia seperti penurunan muka tanah (land subsidence).

Dampaknya sangat signifikan terhadap kehidupan warga. Selain merusak rumah, jalan raya, dan fasilitas umum, banjir ini juga mengganggu aktivitas ekonomi. Sektor pertambakan dan persawahan yang terendam air laut dikhawatirkan menyebabkan kerugian materiil yang besar bagi mata pencaharian warga.

Di sektor kesehatan, genangan air rob berpotensi memicu wabah penyakit, seperti infeksi kulit, diare, dan demam.

Merespons kejadian yang berulang ini, warga berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah penanganan dan mitigasi yang konkret. Tindakan tersebut dinilai penting untuk memutus siklus banjir rob yang terus menimbulkan kerugian ekonomi, sosial, dan kesehatan di masa mendatang.