BANDAR LAMPUNG — Panggung pelantikan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Lampung berubah menjadi forum pesan politik tajam. Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dan Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman kompak mendorong mahasiswa berani mengkritik kebijakan pemerintah.
Pesan tersebut disampaikan dalam acara Stadium General dan pelantikan pengurus BEM U KBM Universitas Lampung periode 2026 di Gedung Serbaguna (GSG) Unila, Senin (6/4/2026), yang juga dihadiri jajaran Forkopimda.
Habiburokhman secara tegas meminta mahasiswa tidak kehilangan daya kritisnya sebagai kontrol sosial. “Jangan pernah takut mengkritik jika kebijakan tidak berpihak pada rakyat,” tegasnya di hadapan ratusan mahasiswa.
Sementara itu, Gubernur Mirza menekankan posisi strategis mahasiswa sebagai mitra sekaligus penyeimbang pemerintah. Ia bahkan menyebut kehadiran pejabat negara dalam forum mahasiswa sebagai bentuk penghormatan terhadap kekuatan gerakan kampus.
“Mahasiswa adalah tempat kami mendengar suara rakyat secara langsung,” ujarnya.
Di sisi lain, Mirza juga mengingatkan tantangan besar yang dihadapi Lampung dalam memanfaatkan bonus demografi, di mana sekitar 71 persen penduduk berada pada usia produktif. Ia menilai mahasiswa harus menjadi motor penggerak untuk memastikan peluang tersebut tidak berubah menjadi beban.
Pelantikan ini sekaligus menandai dimulainya kepemimpinan Presiden Mahasiswa Aditya Putra Bayu bersama wakilnya Reza Ananta, di tengah tuntutan agar kampus kembali menjadi pusat gerakan intelektual yang berani dan independen.
Acara ini mempertegas kembali posisi mahasiswa sebagai aktor penting dalam dinamika demokrasi—bukan sekadar mitra, tetapi juga pengawas kebijakan publik di tengah target besar menuju Indonesia Emas 2045.
