PANDEGLANG – Seekor badak jawan jantan Musofa dilaporkan mati, usai ditranslokasi dari habitat alaminya, menuju kawasan konservasi khusus Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK).
Kabar tersebut disampaikan melalui siaran pers Nomor: SP.544/T.12/TU.4/KSA.03.01/B/11/2025, pada Kamis (27/11/2025).
Translokasi Musofa dilakukan pada Jumat (21/11/2025) dan menjadi peristiwa bersejarah dalam dunia konservasi, karena pertama kalinya badak jawa berhasil dipindahkan dari habitat liarnya ke area konservasi khusus.
Sebagaimana dikutip dari akun Instagram @pesonanabantenofficial Balai TNUK, pemindahan ini merupakan bagian dari operasi monumental bertajuk “Operasi Merah Putih”, yang menjadi langkah penting dalam upaya penyelamatan badak jawa—salah satu satwa paling terancam punah di dunia.
Dalam keterangan tersebut, badak Jawa yang ditranslokasi terkena penyakit kronis bawaan, sehingga sudah tidak bisa diselamatkan.
Musofa sempat menjalani perawatan intensif di JRSCA di TNUK.
Kepala Balai TNUK, Ardi Andono, menyampaikan bahwa proses translokasi Musofa telah melalui perencanaan matang dengan melibatkan para ahli konservasi satwa liar dari dalam dan luar negeri.
Mulai dari dokter hewan, Tentara Nasional Indonesia (TNI), serta berbagai mitra konservasi.
Lanjut, translokasi ini merupakan kebutuhan konservasi jangka panjang bagi spesies itu, mengingat kondisi DNA yang sudah tidak baik lagi, sehingga perlu upaya breeding sistematis, termasuk pendekatan Assisted Reproductive Technology (ART) dan biobank bahkan untuk gen editing.
Terlebih, berdasarkan penelitian IPB University bahwa populasi Badak Jawa, DNA-nya hanya terdiri dari haplotype 1 dan haplotype 2, untuk haplotype 1 telah mengalami inbreeding 58,5 persen sedangkan haplotype 2 adalah 6,5 persen.
“Seluruh prosedur dilaksanakan sesuai standar konservasi internasional, dengan simulasi, penilaian etik, serta kesiapan logistik dan pengamanan. Musofa dipindahkan tanpa luka atau cedera, namun penyakit kronis yang lama diderita menjadi tantangan medis yang tidak dapat diatasi,” jelasnya dalam keterangan tertulisnya.
Ardi mengungkapkan, translokasi merupakan tonggak penting dalam konservasi satwa liar Indonesia, lataran Musofa adalah Badak Jawa pertama yang ditranslokasi
Sehingga hal tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan populasi di alam, memperkuat keanekaragaman genetik, dan mengelola habitat secara terukur dan aman.
Ardi mejelaskan, kronologis peristiwa tersebut dimulai saat Musofa berhasil masuk pit trap pada 3 November 2025.
Kemudian, proses pemindahan dilakukan setelah mempertimbangkan faktor cuaca ekstrem dan keselamatan satwa.
