JAKARTA,– Bendahara Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai PRIMA, Achmad Herwandi, menilai situasi global saat ini tengah berada dalam kondisi penuh tekanan. Konflik Perang Rusia–Ukraina yang belum mereda serta meningkatnya ketegangan di jalur energi strategis seperti Selat Hormuz menunjukkan adanya perubahan besar dalam tatanan dunia.

Menurutnya, negara-negara besar saat ini memperkuat koalisi, menyusun strategi yang lebih solid, dan menjaga stabilitas dalam negeri sebagai benteng utama menghadapi tekanan global.

“Ironisnya, justru di dalam negeri muncul narasi yang melemahkan, seolah Indonesia berada di ambang krisis ekonomi,” ujar Herwandi. Rabu (8/4/2026).

Ia juga menyoroti munculnya wacana politik ekstrem, seperti pemakzulan presiden, yang dinilai berpotensi mengganggu stabilitas nasional.

“Kita harus jujur bahwa narasi seperti ini bukan hanya keliru, tetapi juga berbahaya. Hal itu bisa merusak kepercayaan masyarakat, mengganggu psikologi pasar, dan membuka ruang ketidakpastian,” tambahnya.

Herwandi menekankan bahwa dalam ekonomi modern, persepsi memiliki peran besar terhadap kondisi riil. Ketika kepercayaan publik terganggu, investasi dapat terhenti, konsumsi melemah, dan pertumbuhan ekonomi melambat. Oleh karena itu, dengan menyebarkan narasi krisis tanpa dasar yang kuat, sama dengan melemahkan fondasi bagsa di saat kita seharusnya berdiri kokoh.

Ia juga mengutip data dari Menteri Keuangan Purbaya yang menyebutkan bahwa hingga 31 Maret 2026, pendapatan negara telah mencapai Rp574,9 triliun atau tumbuh 10,5 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini dinilai mencerminkan ketahanan fiskal Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Selain itu, Herwandi menilai stabilitas harga energi dalam negeri juga menjadi indikator penting. Di tengah dinamika global, harga bahan bakar minyak di Indonesia relatif terkendali dibanding sejumlah negara lain seperti Singapura dan Amerika Serikat, yang mengalami kenaikan harga BBM.

Ke depan, ia menyebut pemerintah akan menerapkan kebijakan mandatori B50 mulai 1 Juli 2026 sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan impor energi, memperkuat industri domestik, serta menciptakan nilai tambah di dalam negeri.

“Ini adalah langkah berani dan strategis yang menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga berupaya memimpin arah perubahan,” ujarnya.

Namun demikian, Herwandi menegaskan bahwa seluruh capaian tersebut hanya akan bermakna apabila ditopang oleh persatuan nasional.

“Tidak ada negara yang mampu bertahan di tengah badai global jika terpecah belah. Stabilitas politik adalah fondasi utama bagi pertumbuhan ekonomi,” tegasnya.

Ia menutup dengan menekankan bahwa kekuatan sebuah bangsa terletak pada kemampuannya untuk bersatu dalam menghadapi tantangan.

“Sejarah menunjukkan, bangsa besar bukanlah yang terbebas dari tantangan, melainkan mampu bersatu dalam menghadapinya,” pungkasnya.