Jakarta – Tingginya biaya logistik nasional yang masih mencapai 23,08% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dinilai masih membebani dunia usaha dan melemahkan daya saing produk Indonesia di pasar global. Angka ini jauh di atas standar negara maju yang berkisar 8-10%.

Sebagai respons, Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) bersama Perkumpulan Pusat Logistik Berikat Indonesia (PPLBI) menggelar forum diskusi untuk mengoptimalkan peran Pusat Logistik Berikat (PLB) sebagai solusi strategis. Forum bertajuk ‘Future-Ready Supply Chains: Leveraging Indonesia’s Bonded Facilities for Global Growth’ ini digelar di kantor APINDO, Kamis (28/8).

Ketua Umum APINDO, Shinta W. Kamdani, menyatakan bahwa ketergantungan pada pelabuhan besar, konektivitas yang lemah, hingga birokrasi yang rumit menjadi faktor struktural penyebab mahalnya biaya logistik.

“PLB dan Kawasan Berikat hadir sebagai game changer yang mampu menekan biaya logistik, mengoptimalkan cash flow, dan memperkuat kepatuhan regulasi. Ini adalah instrumen strategis untuk mendongkrak daya saing industri nasional,” tegas Shinta.

Manfaat PLB dibuktikan dengan testimoni dari sektor industri. Ketua Umum PPLBI, Utami Prasetiawati, menyampaikan bahwa bagi operasi migas, PLB memberikan kepastian dan memitigasi risiko keterlambatan yang nilainya bisa mencapai jutaan dolar.

“Dari sektor otomotif, penempatan komponen impor di PLB memberikan fleksibilitas sistem just-in-time sehingga menekan biaya dan meningkatkan kepastian rantai pasok,” jelas Utami.

Kolaborasi antara pemerintah, industri, dan investor melalui penguatan PLB diharapkan tidak hanya menjawab tantangan logistik saat ini, tetapi juga mempersiapkan Indonesia untuk berperan lebih besar dalam pertumbuhan ekonomi global.