Penulis: Aurelia Alexa, Felicia Lesmana | Editor: Francisco Anderson

LEBAK – Di daerah yang hidup berdampingan dengan ancaman gempa bumi dan tsunami seperti Lebak Selatan, kesiapsiagaan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.

Oleh karenanya Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan pertama yang bersentuhan dengan masyarakat seharusnya berada di garis terdepan dalam mitigasi risiko bencana. Namun, realita di banyak wilayah masih menunjukkan bahwa protokol kesehatan darurat belum sepenuhnya terbangun secara sistematis.

Untuk membangun hal itu, Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) bersama mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) memulai langkah konkret melalui workshop Puskesmas Tangguh Bencana (PUSTANA) di Puskesmas Panggarangan, pada Rabu (26/11/2025) lalu.

Kegiatan yang dihadiri 32 tenaga kesehatan dari Desa Situregen ini bukan sekadar pelatihan rutin. Ia adalah bentuk penegasan bahwa infrastruktur kesehatan harus memiliki standar operasi yang jelas dan teruji ketika menghadapi situasi darurat, terutama di wilayah pesisir yang setiap saat berhadapan dengan potensi gempa bumi dan tsunami.

Dengan begitu dibutuhkan penyusunan SOP bencana yang berbasis kondisi geografis Lebak Selatan, guna memperlihatkan kesadaran baru bahwa respons kesehatan tidak boleh lagi bersifat general.

Respon tersebut tersaji dalam materi

yang disampaikan Fasilitator Direktur GMLS Anis Faisal Reza (Abah Lala) dan praktisi kebencanaan Aan Anugerah, mulai dari skenario risiko hingga simulasi tabletop exercise.

Tujuannya jelas: memastikan tenaga kesehatan Puskesmas Panggarangan benar-benar siap ketika menit-menit krisis berlangsung.

Dalam konteks ini, pelatihan tidak lagi dilihat sebagai kegiatan seremonial, tetapi sebagai investasi keselamatan. Lebih jauh lagi, pelatihan ini adalah upaya mengikis gap kapasitas antara ancaman bencana dan kesiapan sumber daya manusia yang selama ini sering diabaikan.

Disela acara tersebut, diluncurkan juga buku “Protokol Kesiapsiagaan dan Respons Bencana: Gempa Bumi dan Tsunami” semakin menegaskan bahwa Puskesmas Panggarangan ingin melangkah lebih jauh. Dokumen panduan ini menjadi fondasi penting bagi seluruh tenaga kesehatan di wilayah pesisir, bukan hanya Panggarangan untuk memahami peran mereka secara terstruktur dan terukur ketika bencana terjadi.

Panduan semacam itu seharusnya menjadi standar nasional, namun selama ini masih bergantung pada inisiatif komunitas atau organisasi lokal seperti GMLS.

Seprti pernyataan praktisi kebencanaan, Aan Anugerah, menggambarkan urgensi tersebut. “Ketika bencana, Puskesmas ini penting dalam berperan sebagai objek vital.”

Faktanya, masyarakat yang selamat dari bencana tidak hanya membutuhkan evakuasi, tetapi juga penanganan medis cepat, stabilisasi trauma, hingga koordinasi rujukan. Tanpa kesiapan, puskesmas hanya akan menjadi bangunan tanpa fungsi strategis.

Melalui program PUSTANA, harapan itu mulai dibangun: menjadikan Puskesmas Panggarangan contoh konkret fasilitas kesehatan yang siap bertindak cepat, tepat, dan terkoordinasi.

Sebelumnya, GMLS juga menggelar sesi siaran langsung Instagram bertema “Siaga Hadapi Bencana: Kolaborasi Menuju PUSTANA”, bersama Ketua Destana Situregen, Deni Apriatna, dan Ketua Tim Gerak Cepat (TGC) Puskesmas Panggarangan, Encep Suprayoga. Kegiatan ini menggambarkan bahwa mitigasi bencana tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri.

Kekuatan terbesar justru terletak pada kolaborasi komunitas, tenaga kesehatan, relawan, hingga organisasi lokal.

Disini saya ingin mengulas sedikit mengenai GMLS yang merupakan organisasi dengan meniliki rekam jejak terbaik, usai mendampingi Desa Panggarangan memperoleh status Tsunami Ready Community dari IOC–UNESCO, organisasi ini kini menargetkan pendampingan ke desa-desa pesisir lain di Lebak Selatan.

Langkah ini penting. Status kesiapsiagaan tidak boleh berhenti pada satu desa, namun harus menjadi gerakan kolektif seluruh pesisir.

Lebak Selatan membutuhkan sistem kesehatan yang sigap, terlatih, dan mampu beradaptasi cepat terhadap bencana. Workshop PUSTANA di Puskesmas Panggarangan hanyalah satu langkah dari perjalanan panjang menuju kawasan pesisir yang tahan banting.

Namun satu hal pasti: Ketika protokol kesehatan darurat terbangun, ketika tenaga kesehatan memahami perannya, dan ketika kolaborasi antara masyarakat dan lembaga terus menguat, maka nyawa manusia yang berhasil diselamatkan akan menjadi bukti nyata bahwa kesiapsiagaan bukan sekadar wacana.