SERANG,– M. Nurul Burhanuddin, putra seorang tokoh agama di Kecamatan Petir, Kabupaten Serang, Banten, membantah keras tudingan yang beredar di media sosial mengenai dugaan penculikan dan penganiayaan terhadap Daud. Ia menegaskan bahwa penjemputan Daud dilakukan secara baik-baik dan disaksikan oleh tokoh masyarakat serta keluarga.

“Justru kami menjemput Daud bersama RT/RW, tokoh masyarakat, pemuda, keluarga Maemunah, bahkan keluarga Daud sendiri turut hadir,” ujar M. Nurul Burhanuddin ke wartawan, pada Rabu (29/1/2025).

Menurut M. Nurul, Daud sebelumnya dititipkan oleh kakaknya kepada orang tuanya agar mendapatkan bimbingan karena sering membuat masalah, termasuk diduga melakukan penipuan yang meresahkan masyarakat dan keluarga.

“Daud sering merugikan banyak orang. Karena itu, kakaknya membawa Daud ke orang tua kami agar dididik menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkapnya.

Setelah beberapa bulan tinggal bersama keluarganya, Daud meminta izin untuk berusaha dan meminjam mobil orang tuanya. Namun, belakangan diketahui bahwa mobil tersebut justru digadaikan tanpa sepengetahuan pihak keluarga dan tanpa adanya pertanggungjawaban dari Daud.

M. Nurul juga membantah bahwa keluarganya memaksa Daud untuk menceraikan istrinya, Maemunah. Ia menegaskan bahwa Maemunah sendiri yang meminta cerai, bahkan proses perceraian tersebut disaksikan oleh lurah.

“Maemunah sendiri yang meminta untuk ditalak oleh Daud. Setelah resmi bercerai, mereka justru sering bertemu secara diam-diam,” ujarnya.

Khawatir akan menimbulkan pandangan negatif di masyarakat, keluarga akhirnya sepakat untuk menjemput mereka guna menyelesaikan masalah melalui musyawarah.

“Kami hanya ingin menyelesaikan persoalan ini dengan cara yang baik. Bahkan, Ketua MUI Kecamatan Petir hadir dalam pertemuan tersebut. Jadi, tidak benar kalau kami menjemput paksa,” tegasnya.

Menanggapi tudingan bahwa ayahnya mengancam dengan samurai, M. Nurul menegaskan bahwa hal itu merupakan fitnah.

“Rahudi tidak berada di lokasi saat kejadian. Ia baru datang saat musyawarah berlangsung dan tidak berbicara apa pun. Tuduhan bahwa ayah saya menodongkan senjata tajam atau samurai adalah kebohongan. Ketua MUI sendiri menjadi saksi bahwa tidak ada ancaman seperti itu,” jelasnya.

Terkait masalah hutang yang menyeret nama Daud, M. Nurul menjelaskan bahwa hal itu bukan sekadar penagihan biasa, melainkan dugaan penipuan.

“Daud meminta bibi saya untuk menggadaikan SK almarhum suaminya dengan dalih modal usaha. Ia menjanjikan bagi hasil, tetapi nyatanya usaha itu tidak pernah ada. Akibatnya, bibi tetap harus membayar cicilan bank sendiri,” katanya.

Ia menegaskan bahwa permintaannya kepada Daud untuk membantu mencicil hutang tersebut merupakan bentuk tanggung jawab moral.

“Saya hanya meminta Daud untuk bertanggung jawab dan membantu mencicil hutang tersebut karena uangnya sudah ia bawa semua,” tandasnya.

M. Nurul berharap masyarakat tidak mudah percaya dengan informasi yang beredar di media sosial tanpa adanya klarifikasi dari kedua belah pihak. Ia juga menegaskan bahwa keluarganya hanya ingin menyelesaikan masalah ini dengan cara yang baik, sesuai dengan norma yang berlaku.

“Kami hanya ingin keadilan dan kebenaran. Jangan sampai informasi yang salah justru memperkeruh keadaan,” pungkasnya.