KADUDAMPIT, SUKABUMI – Di kaki Gunung Gede Pangrango, tersimpan kekayaan rasa Kopi Mandalawangi yang mulai menggeliat sejak tahun 2010. Tumbuh di ketinggian 800–1000 meter di atas permukaan laut, kopi ini menjadi simbol cita rasa khas pegunungan yang kuat, harum, dan otentik.
Kopi Mandalawangi lahir dari tanah muda yang subur di Kampung Sungapan, Desa Kadudampit, Kabupaten Sukabumi. Berkat kandungan mineral alami yang melimpah, kopi jenis Arabika yang dihasilkan di sini memiliki kualitas Grade A dengan profil kaya rasa yang unik.
Keistimewaan Kopi Mandalawangi tak hanya berasal dari tanahnya, tetapi juga dari tangan-tangan petani lokal yang telaten. Mereka menerapkan teknik sortir petik merah, hanya memanen buah kopi yang telah matang sempurna. Selanjutnya, kopi diolah dengan metode natural dan pulped washed, lalu dijemur alami hingga kadar airnya mencapai 12%.
Yang membuat Kopi Mandalawangi benar-benar berbeda adalah proses roasting atau sangrai yang masih menggunakan periuk tanah liat—sebuah teknik tradisional yang semakin jarang ditemukan. Periuk tanah ini menyerap dan menyalurkan panas secara perlahan, memberi karakter rasa yang dalam dan aroma khas tanah yang tak bisa ditiru mesin modern.
Sayangnya, karena keterbatasan bahan baku dan belum fokusnya sebagian besar petani Sukabumi pada pengembangan kopi lokal, produksi Kopi Mandalawangi masih terbatas. Hanya segelintir pecinta kopi yang beruntung dapat mencicipinya.
Meski begitu, Kopi Mandalawangi menjadi harapan baru dalam dunia perkopian lokal. Cita rasanya yang khas, ditambah dengan pendekatan tradisional dan keaslian proses produksi, menjadikan kopi ini sebagai kekayaan budaya sekaligus peluang ekonomi yang menjanjikan.
Bagi Anda penikmat kopi sejati, mampirlah ke Kampung Sungapan RT 18 RW 04 Desa/Kecamatan Kadudampit
Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, untuk merasakan sendiri keharuman tanah Gede Pangrango dalam setiap seduhan Kopi Mandalawangi.
