Tegal – Di balik perannya sebagai penyangga kehidupan pertanian di Kabupaten Tegal, Waduk Cacaban menyimpan ironi: destinasi wisata alam yang kaya potensi justru kian sepi pengunjung. Waduk seluas 1.100 hektar di Kecamatan Kedungbanteng ini menawarkan panorama memukau perbukitan hijau, air tenang, dan udara sejuk, namun belum mampu menjadi magnet wisata yang berkelanjutan.
Sebagai infrastruktur vital yang dibangun sejak 1952, Waduk Cacaban adalah nyawa bagi ribuan hektar sawah di Tegal. “Musim kemarau panjang bukan ancaman selama waduk ini ada,”tutur Sutrisno, petani yang mengandalkan irigasi dari waduk. Tak hanya untuk pertanian, waduk ini juga menjadi sumber penghidupan bagi puluhan nelayan yang mengais rezeki dari ikan nila, mujair, dan lele.
Pemerintah Kabupaten Tegal sebenarnya telah berupaya mengembangkan waduk sebagai destinasi wisata. Gazebo, area piknik, dan spot foto telah dibangun, tetapi animo wisatawan justru fluktuatif. “Dulu ramai, sekarang sepi. Padahal kami sudah menyediakan kuliner khas seperti Cacaban Spesial ikan wader, baby crab, dan sambal lalapan,” ujar mba Lendot, pemilik warung di kawasan wisata.

Kehadiran wisatawan sempat menjadi berkah bagi ekonomi lokal. Pedagang kuliner dan penyewa perahu mengaku pendapatan mereka pernah melonjak hingga dua kali lipat. Namun, belakangan, geliat itu meredup. “Omzet turun drastis. Pengunjung lokal maupun luar daerah semakin jarang,” keluh mba Lendot.
Selain masalah sedimentasi yang mengancam kelestarian waduk, sampah yang dibuang sembarangan oleh pengunjung juga menjadi persoalan serius. Warga berharap pemerintah lebih serius menangani masalah ini sekaligus melengkapi fasilitas yang belum memadai. “Kami butuh dukungan finansial dan pembenahan infrastruktur agar wisata di sini bisa berkembang,” tambah mba Lendot.
Dengan jarak tempuh hanya 30 menit dari Kota Tegal dan tiket masuk terjangkau (Rp 10.000/orang), Waduk Cacaban sebenarnya memiliki modal kuat untuk bersaing. Namun, diperlukan strategi promosi yang lebih agresif, penambahan atraksi wisata, dan perbaikan tata kelola lingkungan.
“Wisatawan yang datang ke sini bukan hanya sekadar menikmati pemandangan, tapi juga merasakan pengalaman kuliner unik dan mengapresiasi kearifan lokal,” pungkas mba Lendot, sembari menyodorkan menu ikan bakar yang menjadi signature warungnya.
Lokasi wisata berada di Kedungbanteng, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.
Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dinilai kunci untuk membangkitkan gairah wisata Waduk Cacaban. Dengan sentuhan inovasi dan keberlanjutan, waduk ini bisa menjelma menjadi destinasi yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga menggerakkan ekonomi kerakyatan.
