Jakarta – Istilah “Hari Pembebasan” yang dulu identik dengan kemitraan Eropa-AS, kini berubah menjadi sinyal waspada. Bagi Uni Eropa (UE), “pembebasan” kali ini berarti ancaman kehilangan akses istimewa ke pasar AS yang menyerap lebih dari $500 miliar ekspor produk Eropa mulai dari obat-obatan, mobil, hingga anggur hanya dalam setahun.
Belum lama ini, UE menjadi salah satu target kebijakan tarif “timbal balik” AS sebesar 20%. Meski sebagian besar sanksi itu ditunda 90 hari, pesannya jelas: Eropa harus siap menghadapi konsekuensi, termasuk tarif baja, aluminium, dan mobil yang sudah lebih dulu berlaku.
Alih-alih langsung membalas, UE memilih pendekatan lebih hati-hati. “Struktur UE membuatnya unik dalam menghadapi perang tarif,” ungkap Andrew Caruana Galizia, Pakar Ekonomi Forum Ekonomi Dunia. “Mereka punya mekanisme negosiasi kuat dan bisa mengambil tindakan tegas tanpa perlu persetujuan semua anggota.”
Buktinya, pekan lalu UE menyetujui daftar balasan mulai dari kapal pesiar hingga daging ayam AS namun sengaja mengecualikan bourbon Amerika untuk melindungi ekspor minuman alkohol Eropa. Langkah ini sekaligus menunjukkan keinginan UE agar eskalasi bisa dihindari.

Dengan ketegangan AS yang kian panas, UE mulai mengalihkan pandangan ke pasar lain. China, meski daya belinya masih terbatas, menjadi salah satu tujuan. Komisi Eropa bahkan sudah menjajaki kerja sama perdagangan dengan India dan akan menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan pejabat China bulan Juli mendatang.
Kebijakan tarif Presiden Donald Trump ini berbasis defisit perdagangan AS-UE yang mencapai $236 miliar pada 2023. Namun, banyak ekonom meragukan logikanya. “Defisit tak selalu berarti tidak adil. Bisa jadi karena struktur rantai pasok,” ujar Paul Krugman, ekonom peraih Nobel yang justru mendukung pembalasan terukur demi menjaga kedaulatan.
UE sadar, meninggalkan pasar AS sepenuhnya mustahil. Namun, membangun pabrik di Amerika seperti “permintaan tersirat” Trump juga bukan solusi instan. Butuh waktu hingga 2028 untuk melihat hasilnya, bertepatan dengan pemilu AS berikutnya.
Sementara itu, UE tetap fokus pada dua hal: negosiasi tanpa emosi dan persatuan internal. Sebab, dalam ketegangan global seperti ini, solidaritas 27 negara anggota adalah kunci utama.
“Kami terbiasa dengan tekanan ekonomi besar. Pelan-pelan, kami akan temukan jalan keluar,” kata seorang diplomat Eropa yang enggan disebut namanya.
(Sumber: Analisis World Economic Forum, 2025)
