Jakarta — Di tengah dominasi istilah-istilah teknologi seperti blockchain, crypto, dan artificial intelligence, muncul sebuah gerakan akar rumput yang menantang dominasi raksasa teknologi global. Dari Aceh, hadir sebuah inovasi bernama hilirisasi digital dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Adalah Teungku Muhammad Raju, tokoh masyarakat Aceh dan pendiri ekosistem digital Prabu Satu Nasional (PSN), yang kini mencuri perhatian. Bersama timnya, Raju merancang sistem teknologi terintegrasi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga menjawab langsung kebutuhan ekonomi masyarakat.

Kami tidak sekadar bicara teknologi. Kami membangun sistem yang bisa langsung dipakai rakyat untuk belanja, bayar listrik, bahkan kirim pesan,” ujar Raju dalam wawancara, Minggu

Langkah Raju merepresentasikan esensi hilirisasi digital yang selama ini digaungkan pemerintah, termasuk oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka: agar Indonesia tak hanya menjadi pasar digital, tapi juga produsen teknologi yang mandiri dan inklusif.

Keunikan dari sistem yang dibangun PSN terletak pada aplikasinya yang langsung menyentuh kebutuhan harian masyarakat. Ekosistem ini terdiri dari empat token utama:

PSNG Token: Digunakan untuk transaksi keseharian seperti PPOB, belanja daring, hingga pengiriman pesan melalui aplikasi blockchain DovaChat.

LUMA Token: Berfungsi sebagai gas fee pada platform pertukaran aset digital Lumadex.finance.

BLC Token (Blocoin): Alternatif Bitcoin yang lebih terjangkau dan dibangun di atas teknologi Solana blockchain.

BRICS GOLD Token: Token berbasis nilai emas dunia, menawarkan stabilitas bagi pengguna yang menghindari volatilitas pasar crypto.

Ekosistem ini telah digunakan oleh lebih dari 5.000 pengguna dari berbagai negara Pencapaian ini menjadi bukti bahwa inovasi teknologi tak harus lahir dari Silicon Valley, tetapi bisa tumbuh dari komunitas yang memahami kebutuhan riil masyarakat.

Raju mengutip pernyataan pendiri Binance: “99% crypto di luar sana tidak punya manfaat.” Menurutnya, tantangan tersebut harus dijawab dengan menciptakan sistem yang benar-benar fungsional dan dibutuhkan oleh rakyat.

Inisiatif seperti yang dibangun oleh Prabu Satu Nasional tak hanya penting dalam konteks kemandirian teknologi, tetapi juga mendorong literasi keuangan digital masyarakat. Dengan token yang bisa langsung digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, masyarakat makin terbiasa dengan sistem keuangan modern dan lebih terlindungi dari spekulasi liar di dunia kripto.

Dari Aceh ke Asia, dari komunitas ke kancah global—apa yang dilakukan Teungku Raju dan timnya adalah bukti bahwa hilirisasi digital bukan sekadar jargon pemerintah, melainkan realita yang bisa dimulai dari desa, bukan hanya dari gedung pencakar langit.

Kami membuktikan, teknologi bisa tumbuh dari rakyat selama ada kemauan, keberanian, dan semangat gotong royong,” pungkas Raju.