Jakarta – Tingginya utang rumah tangga di Thailand menjadi salah satu faktor penghambat pemulihan ekonomi pasca pandemi. Menurut analisis International Monetary Fund (IMF), rasio utang rumah tangga terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Thailand masih berada di level 89%, tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

“Thailand membutuhkan pendekatan komprehensif untuk mengurangi beban utang sekaligus mencegah penumpukan pinjaman baru,” ujar Corinne Deléchat, Asisten Direktur Departemen Asia-Pasifik IMF, dalam laporan khusus yang dirilis hari ini.

Deléchat bersama tim ekonom IMF Seunghwan Kim (Ekonom Senior) dan Ying Xu (Ekonom) memaparkan bahwa lonjakan utang terjadi selama pandemi ketika banyak warga terpaksa berhutang untuk memenuhi kebutuhan dasar. Namun, beban cicilan yang tinggi kini justru menekan daya beli masyarakat.

Tim IMF menganjurkan Thailand mencontoh keberhasilan beberapa negara dalam menangani masalah serupa, Brazil sukses membantu 15 juta warganya merestrukturisasi utang senilai 0,5% PDB melalui program kolaborasi dengan sektor swasta (2023-2024). Malaysia menerapkan regulasi ketat untuk pinjaman konsumen setelah krisis 2008, termasuk pembatasan kartu kredit. Korea Selatan menurunkan angka kredit macet kartu kredit hingga 75% dalam 4 tahun melalui intervensi sistematis.

Pemerintah Thailand telah meluncurkan beberapa inisiatif, Program “Khun Soo, Rao Chuay” (Desember 2024) yang memberikan keringanan pembayaran dan restrukturisasi utang. Bank Thailand menerapkan aturan pinjaman bertanggung jawab (Januari 2024) yang telah membantu 7 juta rekening.

Menurut Seunghwan Kim, akar masalah terletak pada ketidakpastian pekerjaan: “Lebih dari 50% tenaga kerja Thailand berada di sektor informal tanpa perlindungan sosial. Mereka rentan terjerat utang saat terjadi guncangan ekonomi.”

Ying Xu menambahkan, “Edukasi keuangan dan sistem kebangkrutan yang lebih manusiawi diperlukan untuk memutus lingkaran utang.”

IMF merekomendasikan kombinasi kebijakan: memperkuat jaring pengaman sosial, meningkatkan literasi keuangan, serta kolaborasi erat antara pemerintah dan lembaga keuangan. Tanpa langkah terpadu ini, beban utang rumah tangga bisa menjadi bom waktu yang mengancam stabilitas ekonomi Thailand dalam jangka panjang.

Sumber: Laporan Khusus IMF Article IV Consultation with Thailand, April 2025