Jakarta – Risiko geopolitik global yang terus meningkat memicu kekhawatiran akan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi dan keuangan dunia. Ketegangan seperti perang, konflik diplomatik, atau aksi terorisme dinilai dapat mengganggu arus perdagangan dan investasi internasional, yang pada akhirnya berdampak negatif pada harga aset, kinerja lembaga keuangan, serta pertumbuhan ekonomi.

Menurut Laporan Stabilitas Keuangan Global April 2025, pasar saham cenderung mengalami penurunan signifikan ketika terjadi eskalasi risiko geopolitik. Rata-rata, indeks saham global turun 1% per bulan selama periode ketegangan tinggi, dengan penurunan lebih tajam di negara-negara berkembang yang mencapai 2,5%.

Dari berbagai jenis risiko geopolitik, konflik militer internasional memberikan dampak paling buruk terhadap pasar saham di negara berkembang. Imbal hasil saham di kawasan ini bisa anjlok hingga 5% per bulan, jauh lebih dalam dibandingkan dampak dari peristiwa geopolitik lainnya.

Tidak hanya pasar saham, risiko sovereign juga meningkat. Premi asuransi gagal bayar (CDS) pemerintah melonjak 30 basis poin di negara maju dan 45 basis poin di negara berkembang pasca-gejolak geopolitik. Bahkan, di beberapa negara dengan fundamental ekonomi lemah, kenaikan bisa mencapai empat kali lipat.

Ketegangan geopolitik di satu negara dapat dengan cepat menyebar ke mitra dagangnya melalui hubungan perdagangan dan keuangan. Saham di negara mitra dagang utama yang terlibat konflik rata-rata kehilangan 2,5% nilainya. Sementara itu, risiko gagal bayar juga meningkat, terutama di negara berkembang dengan, Rasio utang terhadap PDB tinggi, Cadangan devisa terbatas, dan Institusi keuangan yang rentan.

Guncangan geopolitik menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan, mendorong investor meminta premi lebih tinggi untuk aset berisiko. Bank dan lembaga keuangan lain pun cenderung memperketat pemberian kredit, sementara dana investasi menghadapi tekanan penarikan dana (redemption risk).

Para ahli menyarankan beberapa langkah untuk memitigasi risiko, Regulator perlu memperkuat pengawasan dengan uji stres (stress test) yang mempertimbangkan skenario geopolitik ekstrem. Lembaga keuangan harus menjaga kecukupan modal dan likuiditas. Negara berkembang perlu memperkuat cadangan devisa dan menjaga ruang fiskal.

“Negara dengan fundamental ekonomi lemah paling rentan terkena dampak. Memperkuat ketahanan fiskal dan cadangan devisa menjadi kunci,” tulis laporan IMF tersebut.

Sumber: Bab 2 Laporan Stabilitas Keuangan Global IMF, April 2025