New York, 28 Maret 2025 – Indeks S&P500 terkoreksi tajam sebesar 1,35% pada perdagangan Rabu (27/3), menghapus seluruh keuntungan minggu sebelumnya. Tekanan utama datang dari kekhawatiran investor menyusul rencana kebijakan perdagangan agresif Presiden AS Donald Trump yang akan berlaku efektif 2 April mendatang. Dalam pidatonya, Trump mengonfirmasi pengenaan tarif impor mobil sebesar 25% serta ancaman tarif balasan bagi Kanada dan Uni Eropa (UE) jika kedua pihak memberlakukan pembatasan serupa.
Ketegangan Perdagangan Global Memicu Kekhawatiran
Trump menegaskan sikap kerasnya terhadap upaya Kanada dan UE yang disebutnya “berkolaborasi merugikan AS”. “Jika mereka terus memaksakan perjanjian yang tidak adil, tarif kami akan jauh lebih tinggi dari rencana saat ini,” ujarnya. Respons cepat dari Kanada dan UE yang mengancam tindakan balasan memperburuk sentimen pasar.

Dampaknya, kepercayaan konsumen AS turun untuk keempat hari berturut-turut ke level 92,9 (di bawah proyeksi 94,2), sementara prospek ekonomi anjlok ke 65,2—level terendah dalam 12 tahun dan jauh di bawah ambang resesi (80,0). Meski Federal Reserve (The Fed) bersikukuh menyatakan ekonomi AS tetap stabil, analis memperingatkan risiko penurunan permintaan konsumen dan inflasi akibat kebijakan proteksionis ini.
The Fed Waspadai Inflasi dan Penundaan Pemotongan Suku Bunga
Presiden Fed Chicago, Austan Goolsbee, menyatakan pelonggaran moneter mungkin tertunda 12-18 bulan akibat ketidakpastian pasar. Ekonom Alberto Musalem menambahkan, inflasi AS berisiko tetap di atas target The Fed (2%) karena tekanan harga dari tarif impor. Meski inflasi turun dari 3,0% ke 2,8% bulan lalu, kenaikan tajam PCE Core (data dirilis besok) di atas 0,3% berpotensi memicu tekanan baru di pasar saham.
Peluang pemotongan suku bunga pada Mei 2025 kini hanya 10% (Chicago Exchange). Pasar akan fokus pada data final PDB AS hari ini dan PCE Core besok sebagai katalis berikutnya.
Analisis Teknis: S&P500 di Ambang Bearish?
Meski sempat rebound 0,35% di sesi Asia, S&P500 masih tertekan secara teknikal:
- Harga di bawah Moving Average dan garis tren.
- RSI dan VWAP menunjukkan sinyal netral-bearish.
- Indeks VIX naik 0,60%, indikasi melemahnya minat beli.
- Yield obligasi AS 10 tahun melonjak 25 basis points, memperkuat tekanan jual.
Level kunci: Jika indeks tembus di bawah $5.701,98, momentum bearish berpotensi menguat dan memicu gelombang jual baru.
Proyeksi: Kebijakan perdagangan Trump, respons global, dan data inflasi akan menjadi penentu arah pasar pekan ini. Investor disarankan waspada terhadap volatilitas tinggi.
Sumber: HFM Market Research Team
