BLITAR – Di balik hamparan sawah yang menghijau di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, tersimpan jeritan pilu para petani yang tercekik lantaran berjuang melawan keterbatasan pupuk subsidi dan ancaman kekeringan. Kondisi ini tidak hanya mengancam hasil panen, tetapi juga meruntuhkan harapan mereka untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Keluhan utama yang terus berulang adalah mengenai alokasi pupuk subsidi yang dinilai jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan riil di lapangan. Sanusi, seorang petani senior yang telah puluhan tahun menggarap sawah di Dsn. Genengan Desa Sanankulon, mengungkapkan kekecewaannya. “Setiap tahun, kami hanya dijatah 150 kg pupuk subsidi. Padahal, dengan luas lahan yang kami miliki, idealnya kami membutuhkan sekitar 900 kg pupuk per tahun. Bagaimana mungkin kami bisa bersaing dengan petani dari daerah lain jika kebutuhan dasar ini saja tidak terpenuhi?” ujarnya dengan nada geram, Jumat (24/10).

Senada dengan Sanusi, Tikno, seorang petani muda yang baru mencoba peruntungan di sektor pertanian, juga merasakan dampak yang sama. “Sebagai petani pemula, kami sangat bergantung pada pupuk subsidi untuk menekan biaya produksi. Namun, dengan alokasi yang minim, kami terpaksa membeli pupuk non-subsidi yang harganya jauh lebih mahal. Akibatnya, keuntungan yang kami dapatkan sangat tipis, bahkan seringkali merugi,” keluhnya.

Masalah pupuk subsidi ini diperparah dengan kondisi kekeringan yang semakin sering melanda wilayah Blitar. Debit air sungai yang menjadi sumber pengairan utama sawah terus menyusut, terutama saat musim kemarau tiba. Hal ini menyebabkan banyak petani kesulitan mendapatkan air yang cukup untuk mengairi tanaman mereka.

“Dulu, kami bisa mengandalkan air sungai untuk mengairi sawah sepanjang tahun. Tapi sekarang, airnya semakin berkurang. Kami terpaksa membuat sumur-sumur kecil di sekitar sawah, tapi itu pun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan air seluruh tanaman,” ungkap Mbah Wardi, seorang petani sepuh yang telah merasakan pahit getirnya bertani selama puluhan tahun.

Menghadapi situasi yang semakin sulit ini, para petani Blitar berharap pemerintah daerah dan pusat dapat memberikan perhatian lebih dan solusi konkret.

“Kami tidak butuh janji manis, kami butuh tindakan nyata. Kami berharap pemerintah dapat segera memberikan jalan keluar, agar kami bisa terus bertani dan menghasilkan pangan untuk negeri ini,” tegas Sanusi dengan nada penuh harap.