Bekasi – Peringatan Hari Ulang Tahun Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) ke-51 di Plaza Patriot Candrabhaga, Minggu (5/7/2026), berlangsung meriah dengan jalan sehat dan senam bersama ratusan lansia. Namun di balik kemeriahan itu, ada satu pemandangan yang justru menyita perhatian: deretan kursi yang disediakan untuk para camat nyaris kosong.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, yang hadir langsung dalam acara tersebut menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para PSM. Dalam sambutannya, ia menyebut PSM sebagai “ujung tombak pelayanan sosial hingga tingkat lingkungan” dan “mitra strategis” yang selama puluhan tahun menjadi garda terdepan penanganan persoalan sosial di Kota Bekasi.
Namun, di tengah pujian yang mengalir deras untuk para relawan sosial itu, Tri Adhianto tak bisa menahan sindiran pedasnya. Dengan nada tajam yang terasa menusuk, ia melontarkan kritik terbuka kepada para camat yang memilih absen.
“Saya di sini mengucapkan terima kasih kepada PSM yang sudah bekerja tanpa kenal lelah. Tapi saya malu, sungguh malu, ketika melihat kursi-kursi yang seharusnya diisi oleh para camat justru kosong,” sindir Tri Adhianto di hadapan ratusan peserta.
“Mereka (PSM) setiap hari turun ke lapangan, membantu warga, menyelesaikan masalah sosial. Tapi di hari penghargaan ini, para camatnya malah tidak hadir. Di mana rasa hormatnya? Ini bukan sekadar undangan seremonial, ini adalah bentuk pengakuan atas pengabdian,” tegasnya dengan suara lantang.
Sindiran Wali Kota tersebut disambut tepuk tangan meriah dari para peserta yang sebagian besar adalah lansia dan relawan PSM. Suasana haru sekaligus geram menyelimuti plaza tersebut.

Ketidakhadiran sejumlah camat ini menjadi ironi besar. Sebab, seperti diketahui, PSM selama ini menjadi mitra kerja paling dekat dengan pemerintah kecamatan dalam menjalankan berbagai program kesejahteraan sosial. Mereka adalah “wajah pertama dari kehadiran negara di tingkat paling bawah”, membantu penyandang disabilitas, lansia, hingga warga miskin kota.
“Ketika PSM selalu hadir saat masyarakat membutuhkan, sudah selayaknya para pimpinan wilayah juga hadir saat mereka diberi penghargaan. Ini soal simpati dan kepedulian,” tambah Tri Adhianto.
Kritik pedas ini menjadi alarm keras bagi jajaran pemerintah kecamatan. HUT PSM ke-51 bukan sekadar pesta rakyat, tetapi momen evaluasi: sejauh mana pemerintah benar-benar peduli pada para pejuang sosial yang selama ini menjadi tulang punggung pelayanan kemanusiaan di Kota Bekasi.
“Penghargaan tidak cukup diucapkan dalam sambutan. Penghargaan diukur dari kehadiran, dari telinga yang mendengar, dan dari bahu yang berdiri sejajar.”
