LAMPUNG – Kabar duka menyelimuti panggung politik nasional. Anggota DPR RI dari daerah pemilihan Lampung II, Tamanuri, meninggal dunia pada Senin (23/3/2026) pukul 07.30 WIB.

Almarhum mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Royal Taruma. Hingga detik-detik terakhir, sosok yang dikenal disiplin tersebut disebut masih memikirkan tanggung jawabnya sebagai wakil rakyat.

Informasi yang dihimpun, jenazah akan disemayamkan di rumah duka di Jalan Sultan Agung No F6, Way Halim, Bandarlampung.

Duka mendalam turut disampaikan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Serang, Andrea Nanda Saputra. Ia mengaku pertama kali menerima kabar wafatnya Tamanuri dari pihak keluarga di Lampung.

“Saya mendapat kabar langsung dari keluarga di Lampung. Kami tentu sangat berduka. Almarhum ini bukan hanya tokoh, tapi juga sosok datuk (Ahoya) yang dikenal pekerja keras dan penuh tanggung jawab,” ujar anak nya tengku shunan (Nan).

Andrea menegaskan, Tamanuri merupakan figur yang konsisten dalam pengabdian dan tidak pernah melepaskan tanggung jawabnya, bahkan dalam kondisi sulit.

“Beliau adalah sosok teladan. Bagi kami, almarhum bukan hanya pejabat, tapi panutan—baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan bermasyarakat,” tambahnya.

Menurutnya, kepergian Tamanuri menjadi kehilangan besar, tidak hanya bagi keluarga dan masyarakat Lampung, tetapi juga bagi dunia politik nasional yang membutuhkan figur-figur berintegritas.

Figur Tangguh dari Birokrasi ke Senayan

Tamanuri bukan sosok instan di dunia politik. Ia ditempa dari bawah, lahir di Tanah Abang, Bunga Mayang, Lampung Utara, pada 8 Agustus 1952.

Kariernya dimulai sebagai aparatur sipil negara sejak 1976. Dari posisi staf, ia menapaki jenjang birokrasi hingga dipercaya menduduki jabatan strategis seperti camat dan sekretaris daerah.

Namanya semakin dikenal saat memimpin Kabupaten Way Kanan sebagai bupati selama dua periode (2000–2010). Dari daerah, langkahnya berlanjut ke panggung nasional.

Pada Pemilu 2014, ia melenggang ke Senayan sebagai anggota DPR RI dari Partai NasDem dan bertugas di Komisi V yang membidangi infrastruktur dan perhubungan—dua sektor vital bagi pembangunan.

Pergi, Tapi Jejaknya Tinggal

Kepergian Tamanuri bukan sekadar kehilangan satu kursi di parlemen. Ia meninggalkan jejak panjang pengabdian—dari birokrasi, kepala daerah, hingga wakil rakyat.

Di mata banyak orang, ia bukan sekadar pejabat, melainkan pekerja keras yang tetap memikirkan tugasnya bahkan di ujung hayat.

Lampung berduka. Indonesia kembali kehilangan satu figur pengabdian yang bekerja dalam senyap, namun berdampak nyata.