SERANG – Bencana hidrometeorologi berupa banjir, angin kencang, dan pergerakan tanah melanda Kabupaten Serang, Banten, sejak awal Januari 2026. Hingga Minggu (25/1/2026) pukul 20.00 WIB, 36.355 warga dari 10.894 kepala keluarga tercatat terdampak di 86 desa pada 27 kecamatan, dengan satu warga dilaporkan hilang dan masih dalam proses pencarian oleh Tim SAR Gabungan.

Berdasarkan Laporan Mutakhir Pusdalops BPBD Kabupaten Serang, bencana dipicu hujan sedang hingga lebat dengan intensitas tinggi, luapan sungai, serta angin kencang yang terjadi sejak 2–25 Januari 2026. Dampak terparah berupa banjir yang melanda 23 kecamatan di 58 desa, disusul angin kencang di 9 kecamatan 18 desa, serta pergerakan tanah di 8 kecamatan 15 desa.

BPBD mencatat, kelompok rentan yang terdampak meliputi 1.165 lansia, 2.532 balita, 1.527 anak-anak, 16 ibu hamil, dan 36 ibu menyusui. Tidak ada korban meninggal dunia, namun satu warga bernama Ibu Muizah (32), warga Desa Gembor, Kecamatan Binuang, dilaporkan tenggelam dan hilang terbawa arus saat melintasi aliran irigasi yang meluap.

Selain korban manusia, bencana menyebabkan 9.408 rumah terdampak, dengan 95 unit mengalami kerusakan, serta 57 fasilitas sosial dan umum ikut terdampak. Jumlah pengungsi mencapai 1.450 jiwa, dengan sebagian telah kembali ke rumah setelah kondisi berangsur surut di beberapa wilayah.

BPBD Kabupaten Serang menetapkan status Tanggap Darurat dan terus melakukan pendataan, pemantauan lapangan, serta distribusi bantuan logistik ke wilayah terdampak. Meski sebagian kecamatan telah kondusif, sejumlah wilayah seperti Kibin, Cikande, Binuang, Pamarayan, dan Jawilan kembali dilanda banjir akibat hujan susulan.

BMKG Banten mengingatkan potensi cuaca ekstrem masih akan berlangsung hingga 27 Januari 2026, dan masyarakat di sekitar bantaran sungai diminta meningkatkan kewaspadaan serta siap melakukan evakuasi jika terjadi kenaikan tinggi muka air.