Blitar, Jawa Timur – Keputusan menutup total Jalur Perlintasan Langsung (JPL) 203 di Sanankulon, Blitar, bukan sekadar kebijakan, melainkan tragedi yang mencekik perekonomian warga. Dalih keselamatan, ironisnya, justru menciptakan petaka baru, mengubah perlintasan menjadi monumen ketidakadilan.

Spanduk protes yang terbentang bukan hiasan semata, melainkan jeritan putus asa yang menggema: “Buntu Jalan…! Mateni… Ekonomi Masyarakat…!” Setiap kata adalah luka, setiap huruf adalah air mata yang tak terbendung.

“Dulu kami hidup, sekarang hanya sekadar bertahan!” ungkap Ibu Sumiati, mewakili masyarakat sekitar lokasi. Penutupan ini bukan sekadar mengurangi pendapatan, melainkan mempersulit dan melemahkan nafkah,” senin (20/10).

Jarak berkilometer bukan sekadar angka, melainkan jurang pemisah antara warga dan rezeki yang halal. Ongkos membengkak, waktu terbuang percuma, dan peluang lenyap ditelan kebijakan yang terasa begitu kejam.

Senada dengan Sumiati, Juminto salah seorang warga wilayah tersebut juga mengatakan “yang dulu dekat sekarang muter, kini hanya bisa menatap jalanan sepi dengan mata nanar. “merasa dikhianati! Keselamatan dijadikan alasan untuk membunuh mata pencaharian kami!” ujarnya dengan nada getir.

Hadi Susilo, seorang pengamat transportasi, mengecam keras kurangnya empati dan dialog dalam pengambilan keputusan ini. “Kebijakan ini adalah bukti kebangkrutan logika! Keselamatan seharusnya tidak mengorbankan hak hidup dan mata pencaharian warga!” tegasnya.