SUMEDANG – Gebrakan baru kembali dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM). Kali ini, guru dan pegawai yang malas bekerja bakal merasakan kehidupan di barak tentara! Bukan dihukum, tapi diberi pembinaan agar lebih disiplin dan bertanggung jawab.

Setelah sebelumnya mengirim pelajar nakal ke barak militer dalam program Penguatan Karakter dan Bela Negara, kini giliran para guru dan pegawai yang kinerjanya kurang maksimal akan ‘disekolahkan’ di markas tentara.

“Ke depan, guru atau pegawai yang malas akan masuk barak tentara,” ujar KDM saat meninjau pembinaan pelajar di Makodim 0610 Sumedang, Jumat (9/5/2025).

Namun, jangan salah paham! Mereka tidak akan diperlakukan layaknya tentara atau dihukum keras. KDM menekankan bahwa program ini bertujuan untuk membangun kedisiplinan melalui pendekatan humanis. Mereka akan diberikan pekerjaan konstruksi pemerintah dan menerima honor sebagai bentuk latihan tanggung jawab.

Pendekatan Kedisiplinan yang Humanis Selain guru dan pegawai, program ini juga menyasar pemabuk jalanan, perusuh, dan geng motor. Melalui bimbingan bertahap, peserta akan dilatih agar lebih teratur, sehat, dan mandiri. Fokusnya bukan pada hukuman fisik, melainkan pembentukan karakter dengan metode psikologi, cek kesehatan, hingga pemberian makanan bergizi.

Tidak hanya itu, orang tua pelajar juga ikut serta dalam pelatihan parenting selama dua hari agar mereka lebih siap mendampingi anak ketika pulang. Dengan konsep Panca Waluya yang terdiri dari cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), pinter (cerdas), dan singer (terampil), peserta dibimbing agar menjadi pribadi yang lebih baik.

Langkah Nyata Cegah Kenakalan dan Geng Motor Program ini juga melibatkan Pemda, TNI, dan Polri, dengan rencana penandatanganan MoU bersama Polda Jabar dan Polda Metro pada 16 Mei mendatang. Tujuannya, selain pembinaan karakter, juga menertibkan lalu lintas pelajar dan menghapus geng motor yang meresahkan.

“Membina lebih baik daripada menghukum. Anak-anak dan pegawai itu masih punya masa depan. Pemerintah hadir untuk membimbing, bukan membiarkan,” tegas KDM.

Langkah ini mendapat dukungan Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, yang menyebut program tersebut sebagai solusi strategis untuk persoalan remaja dan kedisiplinan guru. Program ini membuktikan bahwa pendidikan karakter tidak cukup di ruang kelas, tetapi butuh pendekatan lebih nyata dan menyentuh kehidupan.