DIKSIBER.ID, –Indonesia kembali mencatatkan rekor dunia, namun kali ini bukan dalam hal yang membanggakan. Berdasarkan Laporan Digital Global 2025 yang dirilis oleh We Are Social dan Meltwater, warga Indonesia menjadi pengguna internet terlama di dunia. Rata-rata waktu yang dihabiskan per hari mencapai 8 jam 36 menit, jauh melampaui rata-rata global yang hanya sekitar 6 jam 40 menit.

Data ini menunjukkan bahwa ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap internet telah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Aktivitas daring didominasi oleh penggunaan media sosial, streaming video, dan bermain gim daring. Gen Z dan milenial menjadi kelompok yang paling aktif, dengan durasi harian yang bisa mencapai lebih dari 10 jam, terutama di kota-kota besar.

Laporan ini memicu kekhawatiran sejumlah pakar kesehatan mental dan pendidikan. Mereka menilai, kecanduan internet bisa berdampak negatif terhadap produktivitas, kesehatan mental, serta kualitas hubungan sosial. Anak-anak dan remaja menjadi kelompok paling rentan karena perkembangan psikologis mereka masih labil. Sementara itu, orang tua kerap kesulitan mengontrol aktivitas digital anak-anak mereka.

Pemerintah Indonesia sendiri telah menyadari masalah ini. Beberapa kementerian telah menggelar kampanye literasi digital dan pembatasan akses internet di jam-jam tertentu di sekolah. Namun, hingga kini belum ada kebijakan komprehensif yang mampu membendung arus penggunaan internet secara berlebihan di tingkat rumah tangga maupun komunitas.

Menariknya, meski penggunaan internet sangat tinggi, kualitas literasi digital masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Banyak pengguna belum mampu membedakan informasi yang benar dan hoaks, serta rentan terpapar konten negatif. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dan pelaku industri digital di Tanah Air.

Laporan Digital 2025 ini seharusnya menjadi alarm global, khususnya bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia. Internet sejatinya adalah alat bantu, bukan pengganti kehidupan nyata. Jika tidak segera diantisipasi, kecanduan digital bisa berubah menjadi krisis sosial jangka panjang yang lebih sulit disembuhkan dibanding sekadar mencabut koneksi.(*)