Sementara itu, catur menghadirkan bentuk kompetisi yang berbeda. Tidak ada aktivitas fisik seperti di lapangan dan tidak selalu ada sorakan penonton. Namun, setiap langkah memiliki konsekuensi.

Pemain dituntut untuk berpikir secara matang, membaca situasi, menyusun strategi, serta mengambil keputusan dengan penuh pertimbangan. Dalam UNPAM Serang Championship, kompetisi catur juga mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Banten. Salah satu peserta bahkan berhasil menjadi juara pertama setelah melewati sejumlah babak dengan sistem Swiss.

Dari ketiga cabang tersebut terlihat bahwa kompetisi mahasiswa tidak harus hadir dalam bentuk yang sama. Ada kompetisi yang mengandalkan kemampuan fisik, ada yang membutuhkan koordinasi dan kerja sama tim, serta ada yang menuntut ketajaman berpikir dan strategi.

Perbedaan itu justru menjadi kekuatan. Sebab, setiap mahasiswa memiliki potensi dan keunggulan yang berbeda.

Namun, ada pertanyaan yang lebih penting: apakah keberhasilan sebuah kompetisi mahasiswa hanya dapat diukur dari jumlah piala yang berhasil dibawa pulang?

Menurut saya, jawabannya tidak.

Kemenangan tentu menjadi sesuatu yang membanggakan. Tetapi proses menuju kemenangan sering kali memberikan pelajaran yang jauh lebih berharga.

Peserta yang mengalami kekalahan belajar menerima hasil dan melakukan evaluasi. Pemain yang melakukan kesalahan belajar bertanggung jawab dan memperbaiki diri. Tim yang gagal mencapai final belajar bahwa komunikasi dan kerja sama masih perlu diperbaiki.

Bahkan bagi peserta yang tidak berhasil menjadi juara, keberanian untuk hadir, bertanding, menghadapi lawan dari berbagai perguruan tinggi, serta menerima hasil pertandingan merupakan pengalaman yang bernilai.