Ditulis oleh: Ahmad Sayuti
SERANG,– Mentari pagi belum sepenuhnya sirna ketika suara deru alat berat mulai memecah kesunyian di Desa Silebu, Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang, terlihat puluhan prajurit TNI dan warga desa telah sibuk bekerja. Ada yang menggali tanah, ada yang mengangkat batu, ada pula yang menyusun batako membentuk dinding rumah. Bagi mereka, hari dimulai bukan dengan alarm, melainkan dengan semangat gotong royong.
Inilah wajah TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-124 tahun 2025, bukan sekadar program pembangunan, tetapi potret nyata kemanunggalan antara tentara dan rakyat. Di Kabupaten Serang, TMMD hadir bukan hanya sebagai agenda, melainkan sebagai napas baru bagi desa-desa yang lama menunggu perubahan.
“Kami merasa seperti mimpi,” ucap Maesaroh, seorang ibu rumah tangga yang rumahnya direnovasi. “Tentara datang bukan untuk perang, tapi untuk membangun. Kami disapa, diajak ngobrol, rumah kami diperbaiki, jalan dibuka. Ini lebih dari bantuan, ini harapan.”
Program TMMD ke-124 di Kabupaten Serang dipusatkan di Desa Silebu. Di desa ini, TNI bersama pemerintah setempat dan warga membuka jalan baru sepanjang 541,3 meter dengan lebar 3 meter. Sebelumnya, akses menuju desa ini harus memutar sejauh lima kilometer. Kini, dengan adanya jalan baru, perjalanan menjadi lebih singkat, waktu tempuh pun terpangkas drastis.
Selain jalan, dibangun pula jembatan sepanjang 8 meter dengan lebar 4 meter, dua gorong-gorong, peningkatan dua ruas jalan, dan dua titik Tembok Penahan Tanah (TPT). Satu unit mushola direhabilitasi, delapan rumah tidak layak huni (RTLH) dibangun ulang, serta disediakan lima unit sumur bor dan satu unit MCK untuk warga.

Namun TMMD tak berhenti di sekop dan semen. Di balai desa, prajurit menggelar penyuluhan seprti wawasan kebangsaan, bela negara, hukum dan kamtibmas, hingga pemberdayaan perempuan dan pencegahan stunting. Program ini dirancang bukan hanya untuk membangun fisik desa, tetapi juga memperkuat fondasi sosial dan intelektual masyarakat.
Komandan Kodim 0602/Serang, Kolonel Arm Oke Kistiyanto, S.A.P., menyebut TMMD sebagai “proyek hati.” Ia menjelaskan bahwa semangat TMMD bukan hanya membangun jalan atau jembatan, tetapi membangun kebersamaan, saling percaya, dan jiwa nasionalisme.
“Selama 30 hari, prajurit tinggal di rumah-rumah warga. Mereka makan bersama, tidur di tikar yang sama, membantu warga dari pagi hingga senja. Di sinilah TNI menyatu dengan rakyat, dalam arti sebenarnya,” ujar Kolonel Oke.
Kehadiran TNI membawa nuansa baru di desa. Anak-anak yang dulu segan kini mendekat tanpa takut. Mereka menyapa, bersalaman, bahkan bermain sepak bola bersama prajurit usai kerja. “Saya baru tahu kalau tentara bisa pasang genteng dan gali sumur,” celetuk Awaluddin (47), sambil tertawa dan menyuguhkan kopi hangat untuk pasukan yang tengah beristirahat.

Warga desa tidak hanya menerima manfaat pembangunan, tetapi juga terinspirasi oleh kedisiplinan dan semangat para prajurit. “Saya jadi ingin anak saya ikut TNI nanti,” kata seorang ibu sambil melihat anaknya yang berceloteh menirukan aba-aba baris-berbaris.
Program unggulan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) juga diterapkan dalam TMMD ini, termasuk keterlibatan aktif dalam mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui pendataan dan edukasi. Tak ketinggalan penyuluhan tentang lingkungan hidup, bahaya narkoba, paham radikal, KB, hingga pelatihan terhadap kader Posyandu dan Posbindu.
Ketika TMMD ini usai, yang tertinggal bukan hanya infrastruktur. Di jalan yang baru dibuka, akan berjalan kaki anak-anak sekolah dengan lebih ringan. Di rumah-rumah yang direnovasi, akan terdengar tawa keluarga yang kini lebih nyaman. Dan di hati masyarakat, akan selalu ada rasa hangat tentang pasukan berseragam loreng yang datang bukan membawa senjata, tapi membawa harapan.
TMMD ke-124 adalah pengingat bahwa membangun negeri tidak selalu dimulai dari pusat kekuasaan, tetapi bisa juga dari sawah, dari mushola kecil, dari rumah-rumah yang dulu nyaris roboh—bersama rakyat, untuk rakyat.
