Ditulis Oleh: Firdaus Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI)
Dalam politik, jabatan sering kali tidak mencerminkan besarnya pengaruh seseorang. Ada tokoh yang terlihat berada di depan panggung, namun ada pula yang justru memainkan peran menentukan dari balik layar. Dalam konteks politik nasional hari ini, nama Sufmi Dasco Ahmad termasuk dalam kategori kedua.
Ketika isu perombakan kabinet kembali menghangat dan berbagai nama mulai dikaitkan dengan posisi strategis, muncul pertanyaan menarik di ruang publik: mengapa nama Don Dasco disebut-sebut layak mengisi kursi Menteri Dalam Negeri?
Bagi sebagian kalangan, pertanyaan tersebut justru terlalu sederhana. Sebab jika dilihat dari posisi, pengalaman, jaringan politik, dan kedekatannya dengan pusat pengambilan keputusan nasional, Dasco dinilai memiliki kapasitas yang bahkan melampaui sekadar posisi Mendagri.
Dalam struktur politik nasional, Dasco bukan hanya Ketua Harian Partai Gerindra. Ia merupakan salah satu figur sentral yang selama bertahun-tahun berperan menjaga konsolidasi internal partai sekaligus membangun komunikasi politik lintas kekuatan. Kemampuannya menjembatani berbagai kepentingan menjadikan dirinya salah satu tokoh yang paling diperhitungkan dalam koalisi pemerintahan saat ini.
Pengaruh tersebut tidak lahir secara tiba-tiba. Ia dibangun melalui perjalanan panjang di parlemen, kedekatan dengan elite politik nasional, serta kemampuannya mengelola dinamika politik yang kerap berubah dengan cepat.
Dari aspek kelembagaan, pengalaman Dasco di DPR RI memberikan pemahaman mendalam mengenai tata kelola pemerintahan, legislasi, dan hubungan antar-lembaga negara. Posisinya sebagai pimpinan DPR juga menempatkannya pada titik strategis dalam proses pengambilan keputusan nasional.
Dari sisi kepartaian, jaringan organisasinya terbentang dari tingkat pusat hingga daerah. Dalam konteks politik elektoral, kemampuan menggerakkan struktur partai menjadi modal penting yang tidak dimiliki semua tokoh nasional.
Di luar itu, Dasco juga dikenal memiliki kemampuan membangun komunikasi dengan berbagai kelompok strategis, mulai dari kalangan aktivis, akademisi, pelaku usaha, hingga organisasi masyarakat. Kemampuan menjahit berbagai kepentingan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa namanya sering muncul dalam berbagai pembicaraan politik tingkat tinggi.
Tidak berlebihan jika sebagian pengamat menilai Dasco merupakan salah satu “political operator” paling efektif di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Banyak agenda politik dan kebijakan strategis yang berjalan relatif mulus karena adanya kemampuan koordinasi dan komunikasi politik yang kuat.
Dalam konteks itulah, jabatan Menteri Dalam Negeri sesungguhnya bukan posisi yang terlalu tinggi bagi figur seperti Dasco. Kementerian Dalam Negeri membutuhkan sosok yang tidak hanya memahami administrasi pemerintahan, tetapi juga menguasai peta politik nasional, memiliki jaringan kuat hingga ke daerah, serta mampu menjaga stabilitas pemerintahan di tengah dinamika politik yang terus bergerak.
Bahkan jika berbicara mengenai jenjang kepemimpinan nasional, sebagian kalangan menilai kapasitas politik Dasco layak diperhitungkan untuk posisi yang lebih tinggi di masa depan. Bukan semata karena jabatannya hari ini, melainkan karena kemampuan membangun konsensus, menjaga soliditas koalisi, dan mengorkestrasi kekuatan politik dalam skala nasional.
Tentu saja, dalam politik tidak ada posisi yang diberikan semata-mata karena kedekatan atau pengaruh. Semua pada akhirnya ditentukan oleh kebutuhan negara, pertimbangan Presiden, dan dinamika politik yang berkembang.
Namun satu hal yang sulit dibantah: di antara banyak tokoh yang beredar dalam bursa jabatan strategis nasional, Sufmi Dasco Ahmad merupakan salah satu figur yang memiliki modal politik, pengalaman, dan kapasitas paling lengkap.
Karena itu, jika ada yang bertanya apakah Don Dasco layak menjadi Menteri Dalam Negeri, jawabannya sederhana. Dengan posisi dan pengaruh politik yang dimilikinya saat ini, sebagian kalangan bahkan menilai ia layak dipertimbangkan untuk jabatan yang lebih tinggi.
