Episode 3 :
Reporter : Aswandi
Di atas tanah sunyi yang dahulu hidup penuh dengan suara kijang (jonga) berlarian, denting air sungai beriak, dan kepiting-kepiting kecil yang bersembunyi di bawah bebatuan—kini semua seakan hilang. BAKOLE, tanah kecil berenergi besar itu, tidak lagi mengeluarkan denyut alamnya sebagaimana dulu. Kehidupan menghilang perlahan, bukan karena alam memudar, tapi karena kita yang melupakan.
Dahulu, madu hutan menetes dari celah pohon, menjadi berkah. Anggrek liar menjuntai ibarat selendang para bissu di pepohonan, menjadi penanda bahwa alam merestui tempat ini. Kampung Bakole kini, jejak mereka kabur, entah ke mana. Bukan karena punah, melainkan karena mereka bersembunyi dari keserakahan dan ketamakan.

Tak jauh dari Kampung BAKOLE berdiri BEBBA’E, tanah sakral yang kini menjadi bagian dari wisata alam Lejja. Di sanalah, ritual menggantung batu kerikil dilakukan menandakan sebuah isyarat bahwa manusia dahulu punya ikatan batin dengan pohon dan bumi. Bebatuan kecil yang digantung di pohon bukan sekadar benda, mereka adalah doa, perjanjian, dan harapan.
Kini pertanyaannya, di mana suara alam itu? Di mana jonga atau kijang yang dulu melintas bebas? Mengapa anggrek malu menampakkan diri? Mengapa madu hutan tidak lagi terasa manis? Karena tanah yang berenergi bisa menjadi sunyi jika manusianya lupa menghormati akan leluhurnya.
Ajakan Reflektif: Kembalilah ke Diri, Dengarkan Energi Tanah Ini
Kampung BAKOLE bukan sekadar ruang fisik. Ia adalah ruang batin, ruang kenangan, ruang energi. Jika suara jonga atau kijang tak terdengar lagi, jika sungai tak lagi membawa kepiting ke permukaan, itu bukan tanda alam mati—itu alarm untuk kita kembali.
Mari duduk di atas tikar adat,
berbicara dengan kepala dingin,
dan mendengarkan bisikan tanah yang kita pijak. Pelestarian tanpa rakyat adalah kesepian, Konservasi tanpa budaya adalah kehilangan. Bukalah ruang, karena BAKOLE tak akan diam.
