Jakarta – Sistem keuangan global sedang mengalami transformasi radikal. Masa depan finansial tidak lagi berbentuk gedung-gedung bank megah, melainkan terselip rapi dalam aplikasi belanja, platform transportasi, bahkan sistem pembayaran di warung kopi. Inilah era embedded finance, revolusi senyap yang diprediksi akan mencapai nilai pasar $7,2 triliun secara global pada 2030.
Berkat integrasi teknologi finansial ke platform non-keuangan, masyarakat kini bisa, membayar cicilan motor langsung dari aplikasi dealer, mengajukan pinjaman UMKM melalui marketplace, membeli asuransi perjalanan saat memesan tiket pesan.
Embedded finance bukan sekadar teknologi, tapi perubahan filosofi bagaimana uang mengalir dalam ekonomi digital,” jelas pakar fintech WEF, Andrea Del Miglio.
Laporan terbaru WEF mengungkap tren coopetition:
- Fintech unggul dalam inovasi dan kecepatan,
- Bank konvensional menyediakan infrastruktur dan regulasi,
- Kolaborasi keduanya menciptakan ekosistem win-win.
Contoh nyata terlihat di UAE, dimana kolaborasi Citi-Quantix senilai $500 juta berhasil membuka akses kredit bagi 2,3 juta pekerja lepas yang sebelumnya tidak terjangkau sistem perbankan.

WEF mengidentifikasi 3 hambatan utama:
- Regulasi: Perlu kerangka hukum yang fleksibel namun ketat,
- Keamanan: Risiko kebocoran data di platform non-finansial,
- Literasi: 67% konsumen belum paham konsep embedded finance.
Untuk menyambut era ini, WEF merekomendasikan, standardisasi API antar platform, program edukasi konsumen berbasis gamifikasi, sandbox regulasi untuk uji coba inovasi.
“Di Indonesia, potensi embedded finance sangat besar terutama untuk menjangkau 92 juta penduduk yang masih unbanked,” jelas Managing Director WEF Asia Tenggara.
Dengan pertumbuhan 30,1% di UAE dan 28,4% di Asia Tenggara, embedded finance bukan lagi pilihan tapi keharusan. Lembaga keuangan yang gagal beradaptasi dalam 5 tahun ke depan diprediksi akan kehilangan 40% pangsa pasarnya berdasarkan studi WEF 2024.
“Ini bukan tentang bank vs fintech, tapi tentang siapa yang paling mampu memenuhi kebutuhan konsumen di era where finance becomes invisible,” tutup laporan WEF.
(Disarikan dari Laporan Khusus World Economic Forum tentang Future of Financial Services)
