Maybrat – Perayaan Paskah 2026 di Paroki Santo Ambrosius Suswa-Mare, Keuskupan Manokwari-Sorong, tak hanya menjadi momentum ibadah, tetapi juga seruan keras menjaga alam Papua.
Umat dari Stasi Santo Paulus Sun dan Stasi Santo Petrus Seya mengikuti prosesi Jalan Salib ekologis dengan berjalan kaki sejauh 1,3 kilometer, Jumat (3/4/2026).
Rute Jalan Salib dimulai dari Lingkungan Santo Estevanus Nafasi, melintasi Lingkungan Santo Benediktus Sawo, hingga berakhir di Bukit Golgota, Lingkungan Santa Maria Fatimah Sun/Waban.
Prosesi yang berlangsung khidmat ini dipimpin oleh Markus Malar, yang menegaskan bahwa Jalan Salib tersebut bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan bentuk refleksi ekologis.
“Ini Jalan Salib ekologis, menyatu dengan alam. Kalau kita menjaga alam, alam juga akan menjaga kita,” tegasnya dalam khotbah Jumat Agung.
Namun, di balik kekhusyukan ibadah, terselip pesan keras soal kondisi lingkungan di Papua yang dinilai kian terancam.
Romo Markus menyoroti kerusakan hutan akibat eksploitasi sumber daya alam, yang disebutnya telah berdampak luas, tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga kehidupan manusia.
“Hutan dibabat, alam dieksploitasi, bahkan manusia menjadi korban. Kita wajib lindungi hutan, tanah, dan manusia,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan ancaman ekspansi perkebunan kelapa sawit yang mulai masuk ke sejumlah wilayah, seperti Klamono dan Sayosa.
“Kita harus jaga bersama. Stop kelapa sawit, stop penebangan ilegal,” tegasnya.
Prosesi Jalan Salib dipandu oleh Prodiakon Agustinus Kinho dan Demianus Yewen, serta diikuti umat dari kedua stasi dengan penuh khidmat sejak pagi hari.
Sepanjang perjalanan, lantunan doa dan nyanyian pujian mengiringi langkah umat, berpadu dengan suasana alam yang asri—seolah menjadi simbol kuat hubungan spiritual antara manusia dan lingkungan.
Perayaan ini menjadi pengingat bahwa iman tidak hanya berhenti di altar, tetapi juga harus hadir dalam upaya menjaga bumi yang menjadi ruang hidup bersama.
