LEBAK— Gubernur Banten, Andra Soni, mulai menggeber ambisi besar menjadikan provinsi yang dipimpinya sebagai lumbung jagung nasional.

Melalui gerakan tanam jagung di Kecamatan Maja, Lebak, langkah awal dilakukan dengan membuka lahan dan mendorong petani masuk ke skala produksi yang lebih masif.

Pencanangan tanam jagung hibrida di Desa Mekarsari ini bukan sekadar program seremonial. Pemerintah Provinsi Banten menargetkan pengembangan hingga 9.000 hektare lahan dengan proyeksi produksi mencapai 52.000 ton jagung pipil kering.

“Ini langkah awal menuju swasembada jagung, minimal untuk memenuhi kebutuhan daerah sendiri,” ujar Andra, Selasa (21/4/2026).

Ambisi tersebut didorong kebutuhan jagung yang tinggi, terutama untuk industri pakan ternak. Saat ini, Banten memiliki 14 pabrik pakan yang membutuhkan pasokan hingga 4.000 ton per hari—angka yang masih jauh dari kapasitas produksi lokal.

Kedekatan geografis Banten dengan kawasan aglomerasi Jakarta menjadi nilai strategis. Biaya logistik yang lebih rendah dinilai bisa menjadi keunggulan kompetitif jika produksi mampu ditingkatkan secara konsisten.

Namun, tantangan tak kecil menanti. Ketersediaan lahan produktif, konsistensi perawatan tanaman, hingga kesinambungan distribusi menjadi faktor krusial yang menentukan apakah target ambisius ini realistis tercapai.

Pemprov Banten juga membuka peluang kerja sama dengan pemerintah kabupaten/kota serta pengembang untuk memanfaatkan lahan kosong. Langkah ini sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional yang dicanangkan Prabowo Subianto.

Kepala Dinas Pertanian Banten, Nasir, menegaskan bahwa pengembangan jagung menjadi bagian dari strategi besar memperkuat sektor pangan selain padi dan komoditas lain seperti tebu.

Di sisi petani, Ketua Poktan Mekarjaya, Dimas Fahmi Sidqi, menyebut pihaknya telah mengelola hingga 20 hektare lahan sejak beberapa tahun terakhir, termasuk memanfaatkan lahan milik pengembang.

Kini, program ini akan diuji: apakah mampu benar-benar menekan ketergantungan pasokan dari luar daerah, atau justru tersendat di tengah jalan akibat tantangan klasik sektor pertanian.