Bekasi – Di tengah derasnya gempuran permainan digital dan gawai, permainan tradisional berbahan bambu bernama Jeblingan atau Segitiga Setimbang justru menunjukkan denyut kehidupan baru di Kota Bekasi. Permainan yang mengandalkan keseimbangan ini tidak hanya menjadi hiburan alternatif, tetapi juga menjadi sarana melatih konsentrasi dan motorik anak-anak.
Fenomena kebangkitan mainan tradisional ini terlihat di salah satu kawasan permukiman Kavling Sawah Indah. Seorang perajin bernama Abah Cecep (54) masih setia merakit potongan-potongan bambu menjadi sebuah permainan berbentuk segitiga. Dengan ketelitian yang diwariskan secara turun-temurun, bambu-bambu tersebut dirangkai sedemikian rupa hingga menghasilkan keseimbangan khas saat digerakkan.
“Saya membuat permainan ini dari bambu supaya anak-anak tetap mengenal permainan tradisional. Harapannya budaya ini tidak hilang dan generasi sekarang tetap mau memainkannya,” ujar Abah Cecep kepada wartawan, Minggu (28/6/2026).
Permainan Jeblingan terlihat sederhana, namun memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Pemain dituntut untuk menjaga keseimbangan agar rangkaian bambu tidak jatuh, sekaligus mengoordinasikan gerakan tangan agar seimbang kanan dan kiri. Selain menghibur, permainan ini dipercaya mampu melatih fokus, kesabaran, serta keterampilan motorik halus anak-anak yang kini cenderung kecanduan layar ponsel.

Meskipun permainan modern semakin mendominasi keseharian anak, sejumlah anak di Tasikmalaya masih terlihat antusias mencoba dan memainkan Jeblingan. Salah satunya, Kenzo (8), yang mengaku permainan ini menantang dan asyik dimainkan bersama teman-teman.
“Mainnya seru, soalnya bisa seimbang dan harus hati-hati biar nggak jatuh. Aku jadi pengin main lagi sama teman-teman,” tutur Kenzo.
Hal serupa diungkapkan oleh Rafa (6). Meski mengaku kesulitan di awal, ia justru merasa permainan ini lebih menyenangkan jika dilakukan secara beramai-ramai daripada bermain sendirian.
“Aku senang main Jeblingan. Awalnya susah, tapi lama-lama bisa. Lebih asyik kalau main ramai-ramai,” imbuhnya.
Antusiasme para pemain cilik ini pun membuktikan bahwa permainan tradisional masih memiliki ruang di hati generasi muda. Di tengah perkembangan teknologi yang masif, kehadiran Jeblingan menjadi pengingat bahwa warisan budaya leluhur tetap dapat bertahan dan hidup, asalkan terus diperkenalkan dan dilestarikan oleh para perajin serta orang tua kepada anak-anaknya.
