Ditulis Oleh: Novita Sari Yahya
Menulis bukan hanya kegiatan menyusun kata menjadi kalimat. Menulis adalah proses membangun cara berpikir, melatih ketelitian, mengembangkan imajinasi, serta menyampaikan gagasan kepada manusia lain melalui bahasa. Apalagi ketika seseorang menulis sebuah novel, proses yang dilakukan jauh lebih kompleks. Seorang penulis tidak hanya menciptakan cerita, tetapi juga membangun sebuah dunia yang memiliki struktur, aturan, waktu, tempat, karakter, konflik, dan nilai kemanusiaan.
Sebuah novel yang baik membutuhkan fondasi pemikiran yang kuat. Penulis harus mampu membangun struktur cerita yang logis, sehingga setiap peristiwa memiliki hubungan sebab akibat yang jelas. Imajinasi dalam novel tidak bisa berjalan tanpa batas. Imajinasi harus memiliki tanggung jawab etis dan tetap berpijak pada logika kehidupan manusia. Seorang penulis tidak dapat begitu saja melompat dari satu peristiwa ke peristiwa lain tanpa mempertimbangkan latar belakang sejarah, kondisi sosial, budaya, serta karakter manusia yang ada di dalam cerita.
Menulis novel berarti melatih disiplin berpikir. Setiap detail harus diperhatikan dengan teliti. Bagaimana suasana sebuah kota pada masa tertentu, bagaimana masyarakat berpakaian, bagaimana sistem pemerintahan berjalan, bagaimana hubungan antar kelas sosial terbentuk, bahkan bagaimana manusia berbicara pada zamannya, semuanya harus dipertimbangkan. Seorang penulis harus mampu membangun sebuah bangunan cerita yang kokoh agar pembaca merasa bahwa dunia yang diciptakan dalam novel tersebut benar-benar hidup.
Hal itulah yang saya alami ketika menulis novel “Elegi untuk Sebuah Negeri: Ketika Cinta di Ambang Revolusi.” Novel ini membutuhkan proses panjang karena saya harus berulang kali melakukan penulisan ulang, terutama dalam menggambarkan suasana kota Leiden, Rotterdam, dan Batavia pada pertengahan September 1932.
Tahun 1932 bukanlah sekadar angka dalam sejarah. Ia adalah masa ketika dunia sedang mengalami perubahan besar. Kolonialisme masih berdiri kuat, tetapi gagasan tentang kebangsaan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kemerdekaan mulai berkembang di kalangan kaum terpelajar. Oleh karena itu, setiap gambaran dalam cerita harus disesuaikan dengan keadaan zaman tersebut.
Saya harus memikirkan bagaimana suasana jalanan di Belanda pada tahun 1932, bagaimana kehidupan mahasiswa di Universitas Leiden, bagaimana hubungan antara mahasiswa pribumi dari Hindia Belanda dengan masyarakat Belanda, serta bagaimana ketegangan sosial akibat perbedaan kelas dan ras pada masa kolonial.
Suatu ketika, seorang pemimpin redaksi setelah membaca sebagian naskah mengatakan, “Ini bisa-bisa menjadi bumi manusia jilid berikutnya.”
Saya hanya tersenyum dan menjawab bahwa perjalanan menuju karya besar masih sangat jauh. Novel ini memang ditulis dengan kesungguhan, tetapi prosesnya masih membutuhkan banyak penyempurnaan. Dalam penulisan ini, saya banyak menggunakan berbagai sumber sejarah, membaca berbagai referensi, melakukan pencarian informasi melalui internet, serta memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mengecek struktur cerita, kesinambungan alur, dan kesesuaian gambaran sejarah pada tahun 1930-an.
