Arif menyebut limbah cair pengolahan kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) serta tandan kosong sawit memiliki potensi untuk dikonversi menjadi listrik dengan kapasitas sekitar 3,9 gigawatt.

Menurutnya, pemanfaatan potensi tersebut dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperkuat ketahanan energi nasional, termasuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar.

“Jadi saat ini kita mengimpor LPG kurang lebih Rp97 triliun per tahun. Dengan adanya biogas yang bisa dikonversi menjadi gas tabung, saya kira ini akan menjadi salah satu solusi energi kita ke depan,” ucap Arif.

Jika dikembangkan dan diterapkan secara tepat, pemanfaatan limbah sawit berpeluang memberikan nilai tambah bagi sektor industri sekaligus mendukung penyediaan energi. Meski demikian, realisasi manfaatnya tetap bergantung pada kesiapan teknologi, investasi, infrastruktur, dan penerapan di lapangan.

Di bidang kesehatan, BRIN melaporkan pengembangan empat kandidat vaksin malaria. Presiden Prabowo meminta agar proses riset dipercepat sehingga vaksin dapat dikembangkan lebih cepat dari jadwal yang semula direncanakan.

Arif menyampaikan, dukungan Presiden diharapkan dapat mempercepat proses pengembangan hingga tiga tahun dibandingkan waktu yang seharusnya.

“Bapak Presiden minta agar proses riset terkait dengan vaksin ini dipercepat. Dan kita berharap dengan support dari Bapak Presiden terkait dengan vaksin ini, ini bisa kita percepat tiga tahun lebih cepat dari seharusnya karena beliau akan memberikan dukungan penuh terhadap produksi vaksin ini, khususnya vaksin malaria,” ujar Arif.

Pengembangan vaksin tersebut juga dinilai berpotensi menjadi kontribusi Indonesia bagi dunia, terutama dalam menghadapi jenis parasit malaria yang belum memiliki vaksin, seperti Plasmodium vivax.

Namun, kandidat vaksin yang sedang dikembangkan masih harus melalui tahapan penelitian dan pengujian yang diperlukan sebelum dapat digunakan secara luas.

Selain vaksin, BRIN turut mengembangkan riset obat herbal sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian obat nasional.

Arif menyebut terdapat 19 kandidat obat herbal di BRIN yang diarahkan untuk memasuki tahap fitofarmaka. Sebelumnya, sejumlah produk masih berada pada tahap Obat Herbal Terstandar (OHT).

“Saat ini di BRIN sendiri ada 19 kandidat obat herbal untuk masuk pada fitofarmaka. Jadi beberapa obat yang ada di BRIN kan masih dalam taraf OHT, Obat Herbal Terstandarisasi. Sekarang ingin menuju pada fitofarmaka,” katanya.