Jakarta – Siapa bilang nongkrong hanya buang-buang waktu? ATB Community justru membuktikan bahwa dari sekadar duduk-duduk di kafe, bisa tumbuh semangat solidaritas dan aksi nyata untuk sesama. Hal itu tergambar dalam acara Halal Bihalal yang mereka gelar Sabtu malam, 24 Mei 2025, di Jejak Coffee and Resto, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Acara penuh kehangatan ini tak hanya mempertemukan para anggota dan pembina, tetapi juga menjadi momentum memperkuat kolaborasi dengan mitra dan lembaga sosial yang selama ini terlibat dalam kegiatan kemanusiaan ATB Community.

Dihadiri sejumlah tokoh penting seperti Ketua Umum Media Independen Online (MIO) Prayogi, Ketua Umum Aliansi Perdagangan dan Industri Kreatif Indonesia (APIKI) Anto Suroto, Ketua Umum Gerakan Pendidikan Indonesia Bersatu (GPIB), serta perwakilan dari Yayasan Panti Jompo Karya Kasih, acara ini sarat makna dan inspirasi.

Kolonel Marinir Franklyn Sinay, Ketua Umum ATB Community, dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur atas kekompakan komunitasnya.
“Terima kasih atas dukungan luar biasa dari semua pihak. Semangat kebersamaan inilah yang menjadi pondasi kami untuk terus bergerak dan berbagi,” ujarnya.

Lahir dari sekumpulan sahabat yang rutin nongkrong di Kelapa Gading sejak 2020, ATB Community perlahan menjelma menjadi kekuatan sosial yang tak bisa dipandang sebelah mata. Kegiatan mereka mencakup bantuan bencana, santunan kemanusiaan, hingga kunjungan ke panti-panti sosial.

“Jarang ada komunitas yang datang tanpa pamrih seperti ATB. Mereka peduli, datang bukan hanya sekali, dan membawa kebahagiaan untuk para lansia,” ungkap Ibu Baiby, Kepala Yayasan Panti Jompo Karya Kasih.

Sementara itu, Ketua Umum MIO, Prayogi, memberikan apresiasi khusus.
“Ini kisah transformasi yang patut dicontoh. Dari kumpulan teman-teman kongkow, kini jadi komunitas yang bergerak nyata dan memberi dampak,” katanya.

Acara ditutup dengan ramah tamah dan hiburan musik nostalgia 90-an dari band lokal. Tak ada kesan mewah, tapi penuh makna. Dari suasana sederhana, tercermin semangat luar biasa — bahwa berbagi bisa dimulai dari mana saja, bahkan dari sebuah tongkrongan.