JAKARTA-Lonjakan harga plastik hingga 80 persen memicu dorongan perubahan kebijakan konsumsi nasional. Ketua DPR RI, Puan Maharani, menilai situasi ini harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk mengurangi ketergantungan terhadap kemasan plastik dan beralih ke bahan alami yang lebih ramah lingkungan.
Kenaikan harga yang dipicu gangguan rantai pasok global memperlihatkan rapuhnya industri dalam negeri yang masih bergantung hingga 60 persen pada bahan baku impor. Dampaknya paling terasa bagi pelaku UMKM, khususnya sektor makanan dan minuman yang selama ini mengandalkan kemasan sekali pakai.
Puan menegaskan, transisi ke kemasan berbahan organik bukan sekadar solusi ekonomi jangka pendek, tetapi juga langkah strategis menuju ekonomi hijau. Ia mendorong pemanfaatan kembali kearifan lokal seperti daun pisang dan daun jati sebagai alternatif kemasan.
Menurutnya, selain lebih murah dan mudah terurai, kemasan alami juga memiliki nilai tambah dari sisi daya tarik produk. Bahkan dalam beberapa kasus, penggunaan bahan organik dinilai mampu menjaga kualitas makanan sekaligus memperkuat identitas budaya.
Puan juga mengingatkan ancaman serius limbah plastik global. Data United Nations Environment Programme mencatat jutaan ton sampah plastik mencemari perairan setiap tahun, memperparah krisis lingkungan dan perubahan iklim.
Meski demikian, ia mengakui perubahan kebiasaan tidak bisa dilakukan secara instan. Pemerintah diminta menyiapkan regulasi, insentif, dan sosialisasi agar transisi penggunaan kemasan ramah lingkungan dapat berjalan efektif.
DPR, lanjut Puan, akan mengawal kebijakan ini dengan mendorong kolaborasi lintas kementerian untuk memastikan pelaku usaha tidak terbebani dalam proses peralihan.
Lonjakan harga plastik kini bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga menjadi titik tekan untuk perubahan pola konsumsi nasional menuju sistem yang lebih berkelanjutan.
