BALURAN, JAWA TIMUR — Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersama Angkatan Bersenjata Australia (Australian Defence Force/ADF) menguji kemampuan pertahanan siber melalui simulasi terpadu dalam Latihan Gabungan Bersama (Latgabma) Keris Woomera 2026 di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) 5 Marinir, Baluran, Jumat (16/10/2026).
Latihan ini menguji ketahanan infrastruktur digital melalui skenario eksploitasi kerentanan sistem operasi Windows. Dalam simulasi tersebut, TNI Red Team bertindak sebagai unsur penyerang, sedangkan ADF Blue Team menjalankan peran pertahanan dengan mendeteksi, menganalisis, dan merespons ancaman terhadap jaringan.
Skenario tersebut dirancang untuk menguji kesiapan kedua pihak menghadapi ancaman siber, termasuk upaya peningkatan hak akses dan penguasaan sistem direktori jaringan.
Uji Deteksi dan Penanganan Insiden Siber
Dalam pelaksanaannya, TNI Red Team menguji keamanan jaringan melalui sejumlah tahapan, mulai dari identifikasi kerentanan hingga simulasi peningkatan hak akses dan upaya penguasaan sistem.
Menghadapi skenario tersebut, ADF Blue Team menerapkan prosedur Digital Forensics and Incident Response (DFIR) untuk mengidentifikasi serta menangani indikasi serangan siber.
Tim pertahanan menganalisis log keamanan, mengidentifikasi indikator kompromi (Indicator of Compromise/IoC), dan melacak aktivitas mencurigakan di dalam jaringan.
Selain itu, latihan menguji kemampuan personel mengisolasi jaringan dan menghentikan sistem secara terkendali. Langkah tersebut bertujuan membatasi dampak insiden sekaligus mencegah gangguan meluas ke bagian jaringan lainnya.
Rangkaian simulasi ini menempatkan kemampuan deteksi dini, ketepatan analisis, dan kecepatan respons sebagai aspek penting dalam menghadapi ancaman terhadap infrastruktur digital.
Evaluasi Kesiapan Operasional
Joint Cyber Command/Exercise Control (JFCyC/EXCON) mengevaluasi pelaksanaan latihan menggunakan standar penilaian GO/NO-GO. Mekanisme tersebut mengukur pencapaian sasaran latihan sekaligus menilai kesiapan operasional berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.
Melalui evaluasi tersebut, TNI dan ADF menguji kemampuan personel menjalankan prosedur pertahanan siber serta berkoordinasi dalam menghadapi skenario ancaman digital.
Latihan Keris Woomera 2026 juga menjadi bagian dari upaya memperkuat interoperabilitas kedua angkatan bersenjata, khususnya dalam menghadapi risiko serangan siber yang semakin kompleks.
Kerja sama ini diharapkan meningkatkan kemampuan deteksi, respons, dan pemulihan insiden siber sekaligus memperkuat kolaborasi pertahanan Indonesia dan Australia untuk mendukung stabilitas keamanan kawasan
